RADARTUBAN - Pangan lokal seperti talas, singkong, dan ubi jalar yang seharusnya menjadi alternatif murah justru lebih mahal dibandingkan beras dan gandum impor. Kondisi tersebut menimbulkan ironi besar, mengingat pangan lokal lebih sehat dan tersedia di dalam negeri.
F. Rahardi, pengamat sosial ekonomi pertanian, menyebut bahwa rendahnya produksi pangan lokal menjadi penyebab utama mahalnya harga.
"Produksi talas global hanya 17,7 juta ton, sangat kecil dibandingkan gandum yang mencapai 785 juta ton. Ini menunjukkan bahwa pangan lokal kurang mendapat perhatian," katanya, mengutip Radar Surabaya pada Selasa (26/11).
Masalah lain adalah tingginya kadar air pada produk lokal seperti talas, yang mencapai 70 persen. Keadaan tersebut disebut Rahardi jauh dari kata efisien.
"Harga talas Rp15.000 per kilogram, itu masih dengan kulit dan kadar air tinggi, jauh dari efisien dibandingkan gandum atau beras dengan kadar air di bawah 14 persen," jelasnya.
Situasinya semakin pelik dengan daya beli masyarakat yang menurun akibat ekonomi lesu. Masyarakat kelas menengah banyak beralih dari makanan sehat ke produk berbasis gandum, seperti mi instan.
"Kenapa kita tidak memanfaatkan singkong, ubi, atau talas sebagai alternatif utama? Padahal ini jauh lebih sehat. Masalahnya, pangan lokal kalah bersaing harga karena produksi dan distribusinya belum memadai," tegasnya.
Rahardi menjelaskan bahwa mekanisme pasar global membuat gandum impor lebih murah dan mudah diakses.
Sebaliknya, logistik pangan lokal masih mahal karena kurangnya infrastruktur dan manajemen yang efisien.
"Ini masalah tata kelola yang harus segera diperbaiki," tambahnya.
Kondisi ini menggambarkan ketimpangan dalam kebijakan pangan nasional. Tanpa langkah nyata, pangan lokal berisiko semakin terpinggirkan di pasar domestik.
Sebagai solusi, Rahardi mendorong pemerintah untuk meningkatkan efisiensi produksi dan distribusi pangan lokal.
"Jika harga pangan lokal bisa ditekan, kita tidak perlu terlalu bergantung pada impor gandum," tutupnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni