Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kasus Remaja 14 Tahun Bunuh Ayah dan Nenek : Benarkah Gen Z Lebih Rentan Terhadap Masalah Kesehatan Mental?

Mohamad Anas Ali Wafa • Selasa, 3 Desember 2024 | 15:11 WIB
Gen Z rentan terhadap kesehatan mental?
Gen Z rentan terhadap kesehatan mental?

RADARTUBAN – Kasus tragis yang melibatkan MAS, seorang remaja berusia 14 tahun, telah menarik perhatian publik.

Pada Sabtu (30/11) dini hari, MAS melakukan pembunuhan terhadap ayahnya, 44 tahun, dan neneknya, 69 tahun, di rumah mereka di kawasan Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan.

Tah hanya itu, remaja tersebut juga menusuk ibunya. Meski mengalami luka berat, sang ibu berhasil selamat dan kini tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Terkait kasus ini, Psikologi Forensik, Kassandra Putranto memberikan pandangan tentang anggapan bahwa Generasi Z lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental, seperti depresi dan gangguan kecemasan, yang mungkin menjadi salah satu faktor pemicu perilaku esktrem tersebut.

Kassandra juga menyebut terdapat berbagai faktor pemicunya, misalnya paparan media sosial, hingga adanya ketidakpastian terhadap masa depan.

"Sebenarnya semua kelompok usia tertentu rentan terhadap masalah kesehatan mental, walaupun saat ini, generasi Z (yang lahir sekitar 1997 hingga 2012) dianggap lebih rentan terhadap beberapa gangguan kesehatan mental dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Untuk itu diperlukan deteksi dini dan check up psikologis untuk memastikan agar keluarga kita terhindar dari berbagai potensi masalah yang mungkin terjadi," kata Kassandra.

Kassandra juga mengatakan jika Generasi Z merupakan generasi yang tumbuh di era yang penuh dengan paparan kontek internet, baik melalui game maupun melalui media sosial.

Mereka terpapar berbagai konten dalam jumlah yang sangat banyak, yang seringkali tidak sehat, seperti standar kecantikan yang tidak realistis, bullying online dan tekanan untuk selalu tampil sempurna.

Semua faktor tersebut dapat memicu peningkatan kecemasan, depresi dan stres. Anak muda saat ini menghadapi tekanan yang luar biasa, baik dari segi pendidikan, pekerjaan mauapun kehidupan sosial.

"Perasaan harus selalu "terhubung" dan memenuhi ekspektasi dari berbagai pihak (termasuk pengikut media sosial dan teman) bisa menambah stres dan kelelahan mental. Sudah begitu Generasi Z sekarang tumbuh pada masa yang penuh ketidakpastian global, misalnya, krisis finansial, perubahan iklim. Semua faktor ini menciptakan ketakutan akan masa depan, kesulitan dalam mencari pekerjaan, dan ketidakpastian sosial yang bisa menambah masalah mental," seru Kassandra.

Meskipun masalah kesehatan mental dapat ditemukan disemua kelompok usia mulai dari generasi Baby Boomers hingga Millenial, Gen Z cenderung lebih terbuka dalam membicarakan isu-isu kesehatan mental.

"Karena Gen Z lebih terbuka soal kesehatan mental. Hal ini dapat menciptakan persepsi bahwa pada generasi ini seakan-akan mereka lebih "rentan" atau lebih sering mengalami masalah, padahal mungkin mereka hanya lebih berani mengakuinya dan mencari bantuan," pungkas Kassandra. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Game #Gen Z #stres #kesehatan mental #gangguan kecemasan #media sosial #depresi #generasi Z #internet #bullying online