RADARTUBAN - Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenkebud RI) umumkan pertunjukan seni Reog Ponorogo resmi menjadi Warsian Budaya Takbenda (WBTb) United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
Berita membanggakan ini dibagikan melalu akun Instagramnya Kementerian Kebudayaan RI @kemenkebud kemarin Selasa (3/11).
Kesenian asal Ponorogo itu masuk dalam kategori “In Need of Urgent Safeguarding”. Keputusan tersebut lahir atas kesepakatan sidang pada Sidang Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage Sesi ke-19 di Asunción, Paraguay, Selasa (3/11).
Duta Besar RI untuk UNESCO, Mohamad Oemar, yang memimpin Delegasi RI di Sidang Komite ICH UNESCO ke-19, mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Komite WBTb UNESCO serta semua pihak yang berperan dalam pengakuan Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda.
“Pengakuan ini tidak hanya menonjolkan pentingnya seni Reog tetapi juga menegaskan komitmen untuk melestarikan identitas budaya Indonesia bagi generasi mendatang," ungkap Oemar dilansir dari ANTARAYOGYA.
Pada kesempatan itu, Oemar meminta Sekretariat UNESCO memutar video pesan dari Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon.
Dalam pesannya, Fadli Zon menegaskan bahwa pengakuan Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Perlindungan Mendesak oleh UNESCO merupakan momen penting bagi Indonesia untuk melestarikan seni budaya tradisional yang sarat nilai lokal dan semangat gotong royong.
Reog Ponorogo, menurut Fadli Zon, bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan identitas dan kebanggaan bangsa. Ia mengajak generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan melestarikannya agar nilai-nilai luhur yang diwariskan tetap terjaga.
Sebelum mencintai dan melestarikan seni, generasi muda perlu mengenal terlebih dahulu tentang fakta-fakta Reog Ponorogo.
Berikut adalah fakta-fakta menarik tentang Reog Ponorogo yang diakui sebagai seni budaya khas Indonesia:
Asal Usul
Reog Ponorogo berasal dari Ponorogo, Jawa Timur, dan merupakan seni pertunjukan tradisional yang memiliki akar budaya lokal yang kuat. Pertunjukan ini menggabungkan elemen tari, musik, dan cerita epik.
Karakteristik Pertunjukan
Ciri khas pertunjukan Reog adalah kepala harimau besar (dikenal sebagai dadak merak) yang dihiasi bulu merak, serta dimainkan oleh pembarong. Kepala ini memiliki berat hingga 40 kg dan hanya diangkat menggunakan kekuatan gigi.
Komponen Musik
Musik pengiring Reog menggunakan alat tradisional seperti kempul, ketipung, kenong, dan salompret. Nada yang dimainkan seringkali menggunakan laras slendro dan pelog, menciptakan suasana mistis dan eksotis.
Tokoh dalam Reog
Pertunjukan melibatkan berbagai karakter, seperti Warok, Bujang Ganong, dan Prabu Kelono Sewandono. Warok memiliki peran sentral sebagai pelindung dan simbol kekuatan spiritual.
Makna Filosofis
Reog Ponorogo tidak hanya merupakan hiburan, tetapi juga menggambarkan semangat gotong royong, nilai-nilai kepemimpinan, dan perjuangan antara kebaikan dan kejahatan.
Pelestarian oleh Generasi Muda Generasi muda khususnya di daerah Ponorogo menjadi kunci utama pelestarian budaya Reog, melalui sanggar seni dan festival tahunan seperti Grebeg Suro. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni