Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Hilang Selama 15 Jam, Gajah Molly dari Bali Zoo Mati Usai Terseret Arus di Sungai

Cicik Nur Latifah • Kamis, 19 Desember 2024 | 02:19 WIB
Gajah Molly ditemukan mati usai terseret sungai
Gajah Molly ditemukan mati usai terseret sungai

RADARTUBAN- Gajah Molly, gajah Sumatera berusia 45 tahun di Bali Zoo, ditemukan mati  terseret arus Sungai Cengceng, Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali, pada Selasa (17/12).

Gajah yang berbobot sekitar 2,5 ton ini dilaporkan hanyut selama 15 jam, sejak Senin sore (16/12) pukul 15.30 WITA hingga Selasa pagi (17/12) pukul 06.30 WITA.

Sebelumnya, pada Senin, Molly sedang dipandu oleh mahout atau pawang untuk kembali ke holding area setelah menyelesaikan kegiatan rutin sosialisasi.

Aktivitas ini adalah bagian dari perawatan harian Bali Zoo, dimana gajah diberi waktu bermain, menjelajahi lingkungan, dan menerima stimulasi mental dan fisik. Rute perjalanan kembali menuju holding area melewati sungai yang biasanya memiliki arus tenang.

Namun, hujan deras sepanjang hari menyebabkan debit air sungai meningkat secara tiba-tiba, menciptakan arus yang deras. Molly kehilangan keseimbangan dan terseret arus.

Tim Bali Zoo langsung melakukan pencarian intensif bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, BPBD Gianyar, serta melibatkan masyarakat lokal.

Proses pencarian di  mulai pada Selasa pagi sekitar pukul 06.30 WITA dan berakhir 15 jam kemudian dengan ditemukannya jenazah Molly di dasar sungai yang berbatu, sekitar 2,8 kilometer dari lokasi awalnya. Tubuh Molly ditemukan dalam kondisi membengkak akibat pembusukan dan kemasukan air.

Public Relations Bali Zoo, Emma Kristiana Chandra, menyampaikan rasa duka yang mendalam atas kehilangan Molly, yang telah menjadi bagian penting dari keluarga besar Bali Zoo sejak 2013. 

Dia menambahkan bahwa kejadian ini sangat sulit dihindari, tetapi pihaknya berkomitmen untuk mengevaluasi prosedur operasional dan langkah mitigasi risiko, khususnya di musim hujan, demi menjaga keselamatan seluruh satwa di masa depan.

Emma juga mengapresiasi tim internal Bali Zoo, BKSDA Bali, dan masyarakat lokal yang bekerja keras dalam pencarian.

Pihak Bali Zoo juga telah berkoordinasi dengan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi, BPBD Kabupaten Gianyar, serta pihak terkait lainnya untuk mengerahkan alat berat guna mengangkat tubuh Molly.

Selain tragedi Molly, sepanjang tahun 2024, empat gajah ditemukan mati di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, Lampung.

Kasus kematian tersebut disebabkan berbagai penyakit, termasuk hepatitis dan fibroma, yang mempengaruhi kesehatan gajah-gajah tersebut. Satu gajah jinak bernama Rubado juga ditemukan mati di Elephant Response Unit Braja Harjosari pada 1 Desember 2024, akibat shock hipovolemik akibat kecacingan.

Dalam berita terpisah, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan penghibahan lahan seluas 20.000 hektare miliknya di Aceh kepada World Wildlife Fund (WWF) untuk konservasi gajah.

Lahan tersebut akan digunakan untuk menjaga dan melindungi habitat gajah Sumatra di Indonesia. Inisiatif ini merupakan bagian dari dukungan terhadap konservasi hewan langka di Tanah Air.

Kehilangan Molly menggugah perhatian akan pentingnya perlindungan habitat dan kesejahteraan satwa di lembaga konservasi di Indonesia, serta upaya pemerintah dalam menjaga kelestarian satwa liar di alam. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#gajah sumatera #Sungai Cengceng #gianyar #mati terseret arus #Gajah Molly #bali