RADARTUBAN- Sebuah video berdurasi 28 detik tengah memperlihatkan aksi seorang ibu kantin membuang dagangan milik siswi MTs Nurul Huda di Desa Kalibuntu, Kecamatan Losari, menjadi viral di media sosial. Insiden ini terjadi pada Selasa (17/12) dan memancing reaksi luas dari masyarakat.
Dalam video tersebut, tampak makanan olahan seperti sosis, roti, dan mie berserakan di tanah. Sementara siswi yang menjadi korban hanya bisa menangis. Kepala MTs Nurul Huda, Basuni, membenarkan kejadian tersebut dan memberikan klarifikasi terkait latar belakang insiden ini.
Basuni menjelaskan bahwa aktivitas berjualan oleh para siswa merupakan bagian dari Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Rahmatan lil Alamin. Program ini bertujuan untuk melatih siswa berwirausaha melalui penjualan jajanan kekinian.
"Kegiatan ini dikoordinir oleh Pembina OSIS dan hasil penjualannya digunakan untuk mendukung program sekolah. Namun, kami sangat menyayangkan insiden seperti ini," ujar Basuni kepada wartawan, Kamis (19/12).
Menurut Basuni, insiden ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Siswa sering menghadapi perlakuan tidak menyenangkan dari Sominah, 70, ibu kantin di sekolah tersebut.
Sominah diduga merasa terganggu karena dagangannya menjadi sepi akibat keberadaan siswa yang berjualan.
"Selama ini kami sudah mengingatkan agar tidak bertindak kasar, terutama terhadap siswa. Tapi kejadian seperti ini tetap saja terjadi," kata Basuni.
Sominah juga kerap memberikan ancaman kepada siswa yang tidak membeli di warungnya, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman.
Setelah video ini viral, sejumlah pihak, termasuk Polsek Losari, camat, dan kepala desa, langsung turun tangan untuk memediasi permasalahan tersebut. Mediasi juga melibatkan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3KB) Brebes serta Kemenag Brebes.
Sayangnya, Sominah tidak hadir dalam mediasi tersebut. Meski begitu, proses mediasi tetap berlangsung untuk mencari solusi terbaik bagi semua pihak.
Insiden ini memicu perhatian masyarakat, khususnya terkait perlindungan siswa dan pentingnya komunikasi yang baik antara pihak sekolah dan pedagang di lingkungan sekolah. Banyak yang berharap agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni