Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Badai Matahari 2025 Disebut Bisa Memicu Gangguan Internet, Benarkah?

Daffa Maheswara Iswidono • Minggu, 22 Desember 2024 | 21:01 WIB
Ilustrasi badai matahari.
Ilustrasi badai matahari.

RADARTUBAN - Badai Matahari, atau yang dikenal juga sebagai badai geomagnetik, merupakan fenomena yang terjadi akibat interaksi angin matahari dan awan medan magnetik dengan medan magnet Bumi.

Peristiwa ini merupakan bagian dari siklus aktivitas matahari yang berulang setiap 10-11 tahun sekali. Saat ini, aktivitas matahari sedang memasuki fase puncak atau Solar Maximum, yang diprediksi akan terjadi pada Juli 2025 dengan perkiraan munculnya hingga 115 bintik matahari.


Badai Matahari ditandai dengan munculnya bintik matahari, yaitu area gelap pada permukaan matahari yang menandakan aktivitas magnetik tinggi. Jumlah bintik ini meningkat seiring mendekatnya puncak siklus matahari.


Ledakan energi besar dari permukaan matahari yang memancarkan radiasi elektromagnetik dapat mencapai Bumi dalam waktu sekitar 8 menit. Fenomena ini berpotensi mengganggu lapisan ionosfer dan sistem komunikasi radio.

Lontaran massa korona (Coronal Mass Ejection, CME) adalah pelepasan plasma dan medan magnetik dari korona matahari ke luar angkasa. Jika CME mengarah ke Bumi, ini dapat memicu badai geomagnetik yang memengaruhi medan magnet planet kita.


Radiasi yang dihasilkan suar matahari dapat mengionisasi lapisan ionosfer, mengakibatkan gangguan pada sinyal radio frekuensi tinggi dan navigasi satelit seperti GPS.


Partikel energi tinggi dari CME dapat merusak komponen elektronik pada satelit, mengurangi masa operasionalnya, bahkan menyebabkan kegagalan fungsi.


Badai geomagnetik yang kuat dapat memengaruhi sistem jaringan listrik, terutama di wilayah lintang tinggi, dengan risiko kerusakan pada trafo.


Partikel matahari yang berinteraksi dengan medan magnet Bumi menghasilkan aurora atau cahaya utara/selatan yang indah. Saat badai kuat, aurora dapat terlihat hingga ke lintang lebih rendah dari biasanya.


Menurut skala BMKG, kekuatan badai geomagnetik terbagi dalam lima tingkatan:

G1 (minor): Gangguan kecil pada jaringan listrik dan sistem satelit.
G2 (moderate): Gangguan sedang pada trafo dan orientasi satelit.
G3 (strong): Kemungkinan pergeseran orbit satelit dan koreksi tegangan.
G4 (severe): Masalah signifikan pada jaringan listrik dan navigasi satelit.
G5 (extreme): Kerusakan parah pada jaringan listrik, satelit, dan navigasi radio.

Menurut BMKG, dampak badai matahari di Indonesia relatif kecil dibandingkan wilayah lintang tinggi seperti di dekat kutub. Namun, gangguan pada sistem komunikasi berbasis satelit, GPS, atau sinyal radio frekuensi rendah tetap memungkinkan.

Sebagai langkah antisipasi, pusat prediksi cuaca antariksa seperti Space Weather Prediction Center (SWPC) secara rutin mengeluarkan prakiraan badai geomagnetik. Pada Oktober 2024, SWPC memperingatkan adanya badai geomagnetik level R3 (kuat) yang dipicu oleh CME.

Meski ancaman seperti gangguan internet skala besar sangat kecil di Indonesia, fenomena ini tetap perlu diwaspadai, terutama untuk sektor teknologi dan komunikasi. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#badai geomagnetik #Aurora #badai matahari #gangguan internet