RADARTUBAN - Dua dekade lalu, gempa bumi dan tsunami melanda Aceh, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat. Namun, di tengah tragedi tersebut, masyarakat Simeulue membuktikan kemampuan mereka dalam menghadapi bencana dengan kearifan lokal yang dikenal sebagai smong.
Teknik mitigasi bencana ini diwariskan secara turun-temurun dan berhasil menyelamatkan banyak nyawa.
Menurut laporan dari Dishub Aceh (dishub.acehprov.go.id), saat gempa dahsyat yang disusul tsunami menghancurkan ribuan rumah penduduk, masyarakat Simeulue dapat menyelamatkan diri berkat penerapan smong.
Hasilnya, jumlah korban jiwa relatif kecil, hanya tercatat sekitar tiga hingga enam orang meninggal dunia. Keberhasilan ini membuat smong menjadi perhatian dunia, dipelajari, didiskusikan, dan diseminarkan sebagai model mitigasi bencana berbasis kearifan lokal.
Smong, berasal dari bahasa Devayan, bahasa asli Simeulue, berarti hempasan gelombang air laut. Dalam praktiknya, mitigasi bencana ini dilakukan dengan berteriak "smong" sebagai tanda peringatan dini, yang mengarahkan masyarakat untuk segera berlari ke tempat yang lebih tinggi.
Metode ini pertama kali diperkenalkan secara luas pada tahun 1907, ketika tsunami besar menghantam Kecamatan Teupah Barat di Simeulue dengan magnitudo 7,6.
Tsunami tersebut merenggut ribuan nyawa, meratakan rumah-rumah, dan menghancurkan fasilitas umum. Dampaknya meninggalkan jejak berupa kuburan massal di pelataran masjid Desa Salur. Dari pengalaman traumatis inilah smong mulai diterapkan dan diwariskan sebagai pelajaran penting bagi generasi mendatang.
Secara historis, smong adalah bagian dari nafi-nafi, tradisi tutur masyarakat Simeulue yang memuat nasihat dan pelajaran hidup.
Para tetua adat menceritakan kisah-kisah smong kepada anak-anak mereka, baik saat mengaji, memanen cengkeh, maupun sebelum tidur. Kini, smong juga disampaikan melalui seni tradisional seperti nanga-nanga dan nandong, bahkan dalam lagu dan puisi.
Salah satu seniman lokal, Muhammad Riswan atau dikenal sebagai Moris, menciptakan syair lagu tentang smong, yang semakin memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya mitigasi bencana ini.
Tradisi ini diyakini akan terus relevan sebagai persiapan menghadapi kemungkinan bencana serupa di masa depan, meskipun harapan terbesar masyarakat adalah agar tragedi tersebut tak pernah terulang.
Keberhasilan smong dalam menyelamatkan nyawa menjadi inspirasi global. Tidak hanya masyarakat Indonesia, berbagai negara juga mulai mempelajari smong sebagai model mitigasi bencana berbasis adat.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal dapat berkontribusi signifikan dalam menghadapi tantangan bencana alam, sekaligus menunjukkan kekuatan solidaritas dan kebijaksanaan masyarakat lokal dalam menghadapi situasi darurat.
Dengan warisan smong yang terus dijaga, Simeulue telah menunjukkan kepada dunia bahwa pelajaran dari masa lalu dapat menjadi bekal berharga untuk melindungi masa depan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni