Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kisah Dua Ibu yang Bangkit dari Kehancuran Akibat Tsunami Aceh Dua Dekade Lalu

Cicik Nur Latifah • Jumat, 27 Desember 2024 | 19:15 WIB

 

Putra, anak ibu Salawati yang menjai korban tsunami Aceh
Putra, anak ibu Salawati yang menjai korban tsunami Aceh

RADARTUBAN- Aroma ikan tuna rebus menyeruak di dapur rumah Salawati, seorang pengusaha UMKM abon ikan di Merduati, Banda Aceh. Dengan tangan cekatan, dia memadukan potongan ikan tuna dengan daun belimbing wuluh, resep khas Aceh yang diwariskan turun-temurun.

Namun, siapa sangka di balik kesibukannya, ada kisah kelam dan inspiratif yang menyertainya.

Meski sudah 20 tahun lalu, gempa dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 menghancurkan kehidupan Salawati. Dia kehilangan dua anak perempuan yang hingga kini belum ditemukan.

“Saat itu saya benar-benar hancur. Rumah kami rata dengan tanah, dan saya harus menerima kenyataan kehilangan anak-anak saya,” kenangnya dengan mata menerawang.

Kehilangan besar itu membuat hidup Salawati terasa kosong selama dua tahun. Namun, demi masa depan anak bungsunya, ia kembali menghidupkan usaha abon ikan yang telah dirintis sejak 1998.

“Laut yang pernah mengambil hidup saya kini menjadi sumber kehidupan melalui ikan yang berlimpah,” ujarnya.

Saat ini, di usia kepala enam, Salawati menyerahkan pengelolaan usaha kepada anaknya, Putra, yang berusia 29 tahun. Meski sempat terpuruk akibat pandemi COVID-19, Putra berkomitmen melanjutkan usaha keluarga.

“Pengalaman 20 tahun lalu mengajarkan kami untuk terus berjuang,” katanya.

Kisah serupa juga dialami Aina, warga Mereudu, Pidie Jaya. Sebelum tsunami, dia adalah pembuat kerupuk di pesisir pantai. Namun, setelah usahanya hancur, Aina bangkit dengan usaha baru, memproduksi kue tradisional Aceh, Adee.

Berkat bantuan modal dan pendampingan dari pemerintah Jepang melalui JICA, Aina berhasil membangun kembali kehidupannya.

“Tsunami menghancurkan segalanya, tapi kami tidak menyerah. Adee menjadi simbol perjuangan saya,” ujar Aina, yang kini memasarkan produknya dengan merek "Adee Kak Aina."

Penjabat Gubernur Aceh, Safrizal ZA, mengenang bencana tsunami sebagai tragedi besar yang mengubah kehidupan masyarakat. Dalam acara Aceh International Forum, Senin (23/12), ia mengapresiasi peran lembaga donor dalam rekonstruksi Aceh.

“Tsunami 2004 merenggut lebih dari 230 ribu jiwa. Namun, berkat gotong royong, kita berhasil bangkit. Aceh kini menjadi simbol ketahanan, kedamaian, dan harapan,” ujar Safrizal.

Kisah Salawati dan Aina menjadi bukti bahwa di balik duka mendalam, ada semangat dan ketangguhan yang membuat mereka bangkit. Mereka terus melangkah, menjalani kesempatan kedua dengan penuh harapan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#banda aceh #tsunami aceh #aceh #ibu #Kisah Inapiratif