RADARTUBAN - Produsen smartphone asal Tiongkok, Xiaomi baru-baru ini mengubah kebijakannya terkait ijin pembukaan kunci bootloader pada smartphone mereka.
Kebijakan ini akan sedikit banyak berpengaruh terhadap komunitas dan pengguna Xiaomi di seluruh dunia. Pada kebijakan baru ini, Xiaomi hanya mengijinkan satu perangkat saja yang dibuka kunci bootloadernya setiap tahun.
Hal ini berbeda dengan langkah yang diambil Xiaomi sebelumnya yang mengijinkan tiga perangkat untuk dibuka kunci bootloadernya selama rentang waktu satu tahun.
Kebijakan ini tidak hanya berlaku di wilayah Tiongkok, namun juga di seluruh dunia. Langkah baru ini sontak menimbulkan banyak pertanyaan dari para pengembang, peminat, atau pengguna lainnya.
Pasalnya kebanyakan pengguna Xiaomi menggandrungi merek tersebut karena kemudahan yang diberikan dalam mengkustomisasi perangkat mereka sesuai yang mereka mau.
Membuka kunci bootloader sendiri merupakan sebuah langkah untuk memegang kendali atas perangkat lunak pada smartphone. Dengan membuka kunci bootloader, pengguna dapat melakukan rooting, maupun menginstal Custom Rom favoritnya.
Dengan adanya kebijakan baru ini semuanya menjadi dipersulit. Pengguna diharuskan untuk menunggu selama 12 bulan kedepan untuk dapat membuka kunci bootloader perangkat baru.
Alasan Xiaomi menerapkan kebijakan ini tak lain karena perangkan yang telah dibuka kunci bootloadernya memiliki beberapa masalah keamanan yang mungkin terjadi, mencegah penyalahgunaan oleh oknum tidak bertanggung jawab, serta menekankan pengguna untuk tetap menggunakan perangkat lunak resmi dari Xiaomi.
Kebijakan ini merupakan langkah baru Xiaomi dalam mendekati para pengguna dan komunitas. Bagi pengguna biasa kebijakan ini mungkin tidak akan berpengaruh apa apa bagi mereka, namun bagi pengguna yang menyukai oprek smartphonenya, kebijakan baru Xiaomi ini akan sangat membatasi kreatifitas mereka. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama