Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mengenal Istilah Swinger, Fenomena di Balik Kasus yang Ada di Jakarta dan Bali, Ini Kata Para Ahli

Nadia Nafifin • Rabu, 15 Januari 2025 | 20:53 WIB
ilustrasi pesta liar
ilustrasi pesta liar

RADARTUBAN - Belum lama ini, kepolisian mengungkap pesta liar dan pertukaran pasangan (swinger) di Jakarta dan Bali yang melibatkan sepasang suami istri, IG, 39 dan KS, 39. 

Berawal dari fantasi pribadi, bisnis ilegal pasangan ini telah berkembang pesat dengan menggunakan situs khusus, hingga melibatkan 17.732 orang, dan kini mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.

Swinger adalah istilah yang merujuk pada pasangan yang berpartisipasi dalam aktivitas "swinging," yaitu pertukaran pasangan antara dua atau lebih pasangan untuk tujuan rekreasi dan eksplorasi seksual.

Seksolog, dr. Haekal Anshari, M. Biomed (AAM), menjelaskan bahwa gaya hidup seperti ini cenderung lebih umum ditemukan di kota-kota besar karena berbagai faktor.

Salah satunya karena lebih banyak orang berpikiran terbuka di kota besar.

“Orang-orang yang tinggal di kota besar lebih open-minded (berpikiran terbuka),” ujarnya, Minggu (12/1).

Dia juga menyebutkan bahwa masyarakat di perkotaan cenderung lebih terbuka dan mampu menerima perbedaan karena lebih banyak terpapar berbagai informasi dan budaya.

Menurutnya, swinging dipicu oleh berbagai macam stimulasi yang bertujuan membangkitkan hasrat seksual, sehingga menciptakan gairah yang lebih intens.

Stimulus ini dapat berasal dari berbagai faktor, seperti pengaruh sosial, budaya, atau informasi yang diterima, yang berpotensi memperkuat dorongan atau gairah seksual dalam diri seseorang.

Orang-orang yang memiliki pandangan lebih terbuka cenderung lebih mungkin menjadi swinger.

Hal ini karena mereka memahami bahwa aktivitas ini seharusnya tidak disembunyikan seperti perselingkuhan, melainkan didasari oleh sikap saling terbuka dan menghormati.

"Berbeda dengan selingkuh, yang didasari oleh insting manusia untuk melakukan sesuatu yang berbeda namun tetap tersembunyi dari pasangan sah,” tutupnya.

Kendati demikian, ada sejumlah potensi risiko yang perlu dipertimbangkan oleh pasangan yang melakukan swinging.

Selain risiko kesehatan, eksplorasi seksual seperti ini juga sebaiknya dihentikan jika sudah melukai diri sendiri dan orang lain.

Adapun tanda-tanda eksplorasi seksual yang berlebihan yaitu mulai kecanduan, sering berganti pasangan, dan merusak hubungan utama.

"Lama-lama dia akan mengalami sex addiction (kecanduan seks). Ini sifatnya enggak akan pernah puas," ujarnya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#jakarta #seksual #gaya hidup #Swinging #swinger #pesta liar #Pertukaran Pasangan #bali