Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Meski Kini Menguat, Analis Ingatkan Risiko Pelemahan Nilai Rupiah Jelang Pelantikan Donald Trump

Bihan Mokodompit • Selasa, 21 Januari 2025 | 00:05 WIB

 

Nilai tukar rupiah dipredikasikan akan melemah
Nilai tukar rupiah dipredikasikan akan melemah

RADARTUBAN - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan pada awal perdagangan Senin, meskipun analis memperingatkan adanya potensi pelemahan seiring dengan pelantikan Presiden terpilih AS, Donald Trump.

Pada Senin (20/1/2025), nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank menguat sebesar 19 poin atau 0,11 persen, berada di level Rp16.361 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.380 per dolar AS.

Ariston Tjendra, pengamat pasar uang, menjelaskan bahwa meskipun ada potensi penguatan rupiah hari ini, risiko pelemahan tetap terbuka. Menurutnya, pidato provokatif Donald Trump terkait kebijakan tarif berpotensi menekan rupiah pada perdagangan esok hari.

"Pidato Trump yang provokatif mengenai tarif bisa mendorong pelemahan rupiah lagi besok," kata dia, sebagaimana dilansir dari Antara.

Saat ini, indeks dolar AS tercatat di level 109,33, naik dibandingkan posisi Jumat (17/1/2025) yang berada di bawah 109.

Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh data ekonomi AS, di mana produksi industri dan manufaktur pada Desember 2024 mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.

Masing-masing mencatat kenaikan 0,9 persen dan 0,6 persen secara bulanan (month to month), melampaui angka pada November 2024 yang masing-masing sebesar 0,2 persen dan 0,4 persen.

"Hasil ini membantu mendorong penguatan indeks dolar AS pagi ini," tambahnya.

Menurut Ariston, pelaku pasar cenderung berhati-hati dan melakukan konsolidasi menjelang pelantikan Donald Trump. Hal ini karena arah kebijakan ekonomi dan politik AS yang akan disampaikan bisa memengaruhi pergerakan pasar global.

"Pagi ini, market AS terlihat positif, nilai tukar regional menguat terhadap dolar AS. Indeks saham utama seperti Nikkei, Hang Seng, dan Kospi juga menunjukkan penguatan. Rupiah bisa mendapatkan imbas positif hari ini," jelasnya.

Dia memprediksi nilai tukar rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp16.300 hingga Rp16.400 per dolar AS untuk hari ini.

Keputusan Bank Indonesia (BI) baru-baru ini untuk menurunkan suku bunga acuan memberikan angin segar bagi pasar obligasi domestik.

Langkah ini diyakini mampu meningkatkan daya tarik investasi di obligasi, baik untuk investor institusional maupun individu.

Penurunan suku bunga acuan biasanya mendukung kenaikan harga obligasi di pasar sekunder. Obligasi dengan kupon tetap menjadi lebih menarik karena menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan suku bunga acuan yang baru.

Selain itu, langkah BI ini juga memicu peralihan dana dari deposito ke obligasi. Dengan suku bunga deposito yang menurun, investor ritel diperkirakan akan melirik obligasi pemerintah maupun korporasi sebagai alternatif investasi.

Riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia mencatat bahwa selisih imbal hasil antara US Treasury dan INDO GBs (obligasi pemerintah Indonesia) untuk seri 10 tahun terus menyempit, memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah.

Pada kuartal IV 2024 hingga awal 2025, arus masuk asing ke pasar obligasi Indonesia menurun tajam. Hal ini dipengaruhi oleh penguatan ekonomi AS yang melampaui ekspektasi, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kebijakan proteksionis Donald Trump.

Pasar ekuitas juga terdampak oleh kondisi tersebut, dengan tercatatnya arus keluar signifikan pada kuartal IV 2024 hingga awal tahun ini.

Meskipun imbal hasil US Treasury naik tajam, imbal hasil riil untuk tenor 10 tahun hanya mencapai 2 persen, jauh di bawah imbal hasil riil INDO GB 10 tahun yang berada di level 5,7 persen. Faktor ini membuat obligasi Indonesia tetap menarik, terutama dengan inflasi yang moderat di dalam negeri.

Bank Indonesia terus menunjukkan komitmennya untuk menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai langkah intervensi.

BI telah aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing (valas), instrumen DNDF, serta pembelian INDO GB di pasar sekunder. Langkah-langkah ini membantu menjaga volatilitas tetap terkendali.

Pada Januari 2025, BI tercatat memegang 24 persen dari total INDO GB yang beredar, turun dari 27,4 persen pada puncak pandemi Desember 2022. Pada tahun 2024, BI telah membeli obligasi pemerintah senilai Rp540,5 triliun untuk menstabilkan imbal hasil dan nilai tukar.

Selain itu, penerbitan Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga terus diperkuat. Hingga 14 Januari 2025, SRBI yang beredar mencapai Rp914,7 triliun.

Lelang terakhir menghasilkan Rp30 triliun, dengan imbal hasil SRBI mencapai 7,23 persen, sedikit turun dari puncaknya di 7,30 persen. Langkah ini menunjukkan pendekatan proaktif BI dalam menjaga stabilitas mata uang. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#as #dolar #penguatan #presiden #Pelemahan #Amerika Serikat #donald trum #nilai tukar rupiah