Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Menganal Satryo Soemantri Brodjonegoro, Menteri yang Pecat Pegawainya Hingga Kabur Saat Didemo, Berikut Faktanya

Nadia Nafifin • Selasa, 21 Januari 2025 | 15:02 WIB
Mendikti Saintek Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro dan sang istri
Mendikti Saintek Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro dan sang istri

RADARTUBAN - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro, yang menjabat di Kabinet Merah Putih pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, menjadi sorotan publik. Ironisnya, dia justru mendapat kecaman dari bawahannya sendiri.

Mantan Dirjen Dikti tersebut diduga bersikap arogan dan bertindak semena-mena. Dia dikabarkan memecat pegawainya melalui WhatsApp (WA) hanya karena masalah sepele, bahkan sering berperilaku kasar.

Akibatnya, Prof Satryo didemo anak buahnya di kantor Mendikti Saintek, Jakarta (20/1).

Mereka meminta Presiden Prabowo Subianto mengevaluasi kinerja Mendikti Saintek.

7 Fakta Satryo Soemantri Brodjonegoro yang Sedang Ramai Dibicarakan

1. Pemecatan Pegawai melalui WhatsApp
Salah satu tindakan Satryo yang paling mendapat sorotan adalah pemecatan seorang pegawai melalui WhatsApp.

Neni Herlina, yang menjabat sebagai Penanggung Jawab Rumah Tangga di Kemendikti Saintek, mengungkapkan bahwa dirinya diberhentikan secara mendadak oleh Satryo tanpa adanya surat pemberitahuan resmi.

“Pak Menteri langsung kirim pesan ‘Saya pecat kamu’ tanpa ada pemberitahuan sebelumnya,” ujar Neni.

Menurutnya, tindakan tersebut tidak memiliki dasar hukum yang kuat dan melanggar etika profesional.

Pemecatan itu diduga berkaitan dengan keterlambatan dalam pemasangan jaringan Wi-Fi di rumah dinas, yang dianggap tidak selesai sesuai jadwal.

2. Perlakuan Kasar Terhadap Pegawai
Selain kasus pemecatan, beberapa pegawai mengaku kerap menerima perlakuan kasar dari Satryo. Neni juga menyebut bahwa dirinya pernah dimarahi secara langsung oleh Satryo di hadapan staf lainnya.

“Beliau membentak saya di depan staf dan anak-anak magang. Rasanya sangat tidak etis dan melukai harga diri,” ungkapnya.

Hal ini menimbulkan kesan bahwa gaya kepemimpinan Satryo sering dianggap otoriter oleh bawahannya.

3. Kabur saat Dihadang Demonstrasi Pegawai
Satryo menjadi sorotan ketika ratusan pegawai Kemendikti Saintek menggelar unjuk rasa damai di depan kantor kementerian. Para pegawai menuntut keadilan atas tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh Satryo.

Dalam aksi tersebut, mobil dinas RI 25 yang ditumpangi Satryo terlihat meninggalkan gedung, sementara massa yang membawa spanduk bertuliskan 'Institusi negara bukan perusahaan pribadi Satryo dan istri!' berusaha menghadangnya.

Namun, Satryo tetap melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan lokasi.

4. Presiden Prabowo Diminta Mengevaluasi Satryo
Ketua Paguyuban Pegawai Kemendikti Saintek, Suwitno, menyampaikan bahwa aksi protes tersebut bertujuan untuk meminta Presiden Prabowo mengevaluasi posisi Satryo sebagai menteri.

“Kami berharap Presiden mempertimbangkan ulang penunjukan beliau sebagai menteri. Seorang pemimpin seharusnya menjadi teladan, terutama di bidang pendidikan tinggi,” katanya.

5. Prestasi Satryo di Dunia Pendidikan
Di tengah kontroversi yang melingkupinya, rekam jejak prestasi Satryo tetap patut diperhitungkan.

Sebagai seorang ilmuwan, dia telah menghasilkan lebih dari 99 publikasi ilmiah dan pernah menjabat sebagai Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI).

Satryo memulai karier akademiknya di bidang teknik mesin dan meraih gelar Ph.D. dari University of California, Berkeley, pada tahun 1985.

Pada tahun 1992, dia terpilih sebagai Ketua Jurusan Teknik Mesin di ITB, dan dari tahun 1999 hingga 2007, ia menjabat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.

6. Penghargaan Internasional yang Mengesankan
Prestasi Satryo diakui tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di kancah internasional. Salah satu penghargaan bergengsi yang ia terima adalah The Order of the Rising Sun, Gold Rays with Neck Ribbon dari pemerintah Jepang.

Penghargaan ini diberikan sebagai pengakuan atas kontribusinya dalam memperkuat kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Jepang.

7. Warisan Keluarga dan Latar Belakang Akademik
Satryo lahir di Delft, Belanda, pada 5 Januari 1956. Dia adalah putra dari Soemantri Brodjonegoro, yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1973.

Dengan latar belakang keluarga yang memiliki kedekatan dengan dunia pendidikan, wajar jika Satryo melanjutkan tradisi tersebut. Dia dikenal sebagai sosok yang membawa pembaruan dalam dunia pendidikan tinggi, terutama dalam memodernisasi kebijakan dan sistem pendidikan di Indonesia.

Namun, kontroversi yang mengiringi masa jabatannya sebagai menteri memberikan catatan tersendiri dalam perjalanan kariernya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#whatsapp #menteri pendidikan #Satryo Brodjonegoro #pegawai #arogan #didemo #Mendikti Saintek #Memecat