Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Viral Video Joget Sound Horeg Menggunakan Pakaian Adat Gandrung Khas Banyuwangi, Disbudpar Angkat Suara

Nadia Nafifin • Sabtu, 8 Februari 2025 | 16:59 WIB
Dancer DJ gunakan baju Tari Gandrung Banyuwangi
Dancer DJ gunakan baju Tari Gandrung Banyuwangi

RADARTUBAN - Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh sebuah video yang memperlihatkan seorang dancer DJ tampil dalam sebuah karnaval di salah satu kota di Jawa Timur.

Dalam video tersebut, dia terlihat mengenakan kostum khas Tari Gandrung Banyuwangi.

Aksi ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi serta Dewan Kesenian Blambangan (DKB).

Mereka menilai bahwa penggunaan busana tradisional yang memiliki nilai sakral dalam hiburan malam dianggap tidak pantas.

Plt. Kepala Disbudpar Banyuwangi, Taufik Rohman, menegaskan bahwa pakaian adat Gandrung memiliki aturan dan pakem tersendiri yang harus dihormati.

"Penggunaan kostum penari Gandrung ada aturan-aturan tertentu yang harus dipahami dan patuhi," kata Taufik.

Dia juga menekankan bahwa bukan hanya busana Tari Gandrung, tetapi seluruh pakaian adat tradisional memiliki makna filosofis yang mendalam dan harus dikenakan dengan penuh rasa hormat.

"Masing-masing daerah punya filosofi, punya makna yang mendalam dalam kostumnya masing-masing, kita harusnya saling menghargai dan menghormati tentang kesakralan ketika menggunakan kostum adat," ujarnya.

Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Hasan Basri, juga mengkritik keras penggunaan kostum Gandrung dalam konteks yang tidak sejalan dengan nilai-nilai budaya Banyuwangi.

"Kesenian Gandrung bukan semata hanya kesenian yang bersenang-senang, ekspresi estetik saja, tetapi Gandurng memiliki latar belakang historis, filosofis, dan pedalaman makna yang bersifat mistis dan religius," tutur Hasan.

Dia menegaskan bahwa bagi masyarakat Bumi Blambangan, Tari Gandrung bukan sekadar sebuah pertunjukan seni biasa yang hanya berfungsi sebagai hiburan. 

Tarian ini memiliki nilai historis yang mendalam serta makna filosofis yang mencerminkan identitas budaya dan warisan leluhur yang harus terus dijaga serta dilestarikan dengan penuh rasa hormat.

"Kita harus menjaga nilai-nilai luhur, adiluhung kesenian gandrung, maka dari itu, kami merasa prihatin apabila kesenian gandrung diekspresikan secara bebas tanpa mempedulikan suara hati kami, nilai-nilai kami bahwa gandrung itu kesenian yang sakral," jelasnya.

Untuk ke depannya, Hasan menegaskan bahwa DKB akan terus mengedukasi masyarakat mengenai makna dan kesakralan Tari Gandrung, guna mencegah penyalahgunaan di masa mendatang.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa busana adat bukan sekadar pakaian biasa, melainkan representasi identitas budaya yang harus dijaga dengan penuh rasa hormat.

Disbudpar dan DKB pun mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk lebih memahami, menghargai, dan melestarikan warisan budaya Banyuwangi agar tetap terjaga keasliannya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#dancer #pakaian adat #Joged #sound horeg #media sosial #disbudpar #tari gandrung #banyuwangi #dj #DKB