RADARTUBAN - Ketegangan antara warga Madura dan etnis Papua mencuat setelah maraknya aksi premanisme di Yogyakarta.
Tindakan tersebut memicu respons keras dari Forum Keluarga Madura Yogyakarta, yang akhirnya melayangkan surat terbuka dan menantang duel ‘carok’ sebagai bentuk penyelesaian konflik.
Awal mula konflik dimulai ketika sejumlah pemilik warung klontong Madura di Yogyakarta mengaku mengalami intimidasi dan tindakan premanisme dari etnis Papua.
Beberapa aksi yang dilaporkan termasuk pengambilan barang tanpa membayar, pengrusakan tempat usaha, hingga kekerasan fisik terhadap pedagang.
Situasi ini menimbulkan keresahan di kalangan warga Madura yang tengah mengais rezeki di Yogyakarta.
Merasa tidak mendapatkan perlindungan yang cukup, Forum Keluarga Madura Yogyakarta akhirnya mengeluarkan surat terbuka kepada tokoh etnis Papua Yogyakarta, Hendardo Novriansiroen.
Dalam surat yang ditandatangani Ketua Forum Keluarga Madura Yogyakarta RB Jugil Adiningrat, dan Sekretaris M. Fahri Hasyim, mereka meminta Hendardo Novriansiroen untuk memberikan jaminan keamanan bagi warga Madura yang berusaha di Yogyakarta.
Mereka mendesak agar tindakan premanisme yang dilakukan oleh oknum etnis Papua segera dihentikan dan tidak terulang lagi.
Namun, jika tidak ada solusi yang jelas, Forum Keluarga Madura Yogyakarta tak segan menantang carok, sebuah tradisi pertarungan khas Madura.
Mereka bahkan meminta Hendardo menentukan waktu, tempat, dan tanggal untuk pertarungan tersebut, sebagai bentuk penyelesaian atas perlakuan yang diterima warga Madura di Yogyakarta.
Situasi yang semakin memanas menarik perhatian Anggota DPR RI Slamet Ariyadi, yang merupakan politisi asal Madura.
Dia meminta agar Forum Keluarga Madura Yogyakarta tetap menjaga keamanan dan tidak terprovokasi.
Slamet berharap agar konflik ini dapat diselesaikan melalui jalur musyawarah tanpa menimbulkan bentrokan.
“Saya berharap agar Tretanku di Yogyakarta bisa menahan diri dan menyelesaikan persoalan ini dengan cara yang damai. Jika ada keluhan terkait gangguan yang dialami, lebih baik diselesaikan melalui musyawarah dengan mencari solusi bersama,” ujar Slamet Ariyadi baru-baru ini.
Selain itu, Slamet juga meminta aparat kepolisian, khususnya Kapolres dan Kapolda DIY, untuk segera mengambil tindakan tegas terhadap aksi premanisme yang dilakukan oleh oknum etnis Papua.
Dirinya menegaskan bahwa warga Madura tidak akan bertindak di luar hukum, selama hak mereka tidak diganggu.
Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Aditya Surya Dharma juga turut angkat bicara mengenai situasi ini.
“Kami meminta agar semua pihak menjaga ketenangan dan tidak mudah terpengaruh oleh isu yang beredar. Saat ini, kepolisian telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan situasi di Yogyakarta tetap aman dan kondusif,” ujar Kombes Aditya Surya Dharma.
Hingga saat ini, pihak kepolisian memastikan bahwa seluruh pemangku kepentingan sudah dilibatkan dalam penanganan situasi tersebut.
Aparat keamanan terus melakukan pemantauan untuk mencegah potensi kericuhan antar kelompok yang bisa mengganggu stabilitas di Yogyakarta.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh informasi yang dapat memperkeruh keadaan.
Semua pihak diharapkan dapat menunggu langkah konkret dari aparat keamanan agar konflik ini bisa diselesaikan dengan damai, tanpa kegaduhan yang lebih besar. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama