RADARTUBAN - Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto, memberikan cendera mata berupa keris Bali kepada Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.
Keris Bali Gegodohan berwarna kuning emas tersebut diserahkan Prabowo kepada Erdogan setelah keduanya menggelar high level meeting di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada Rabu (12/2).
Selain keris Bali Gegodohan, Presiden RI kedelapan itu juga memberikan cendera mata berupa senapan buatan Pindad, hasil produksi dalam negeri. Senapan tersebut dilengkapi dengan ukiran nama Erdogan sebagai Presiden Turki.
Meskipun tidak dijelaskan secara rinci mengenai keistimewaan keris Bali dalam momen pertukaran cendera mata tersebut, senjata tradisional ini memiliki makna yang mendalam.
Menurut kepercayaan masyarakat Bali, keris khas Bali memiliki kegunaan khusus, salah satunya adalah sebagai sarana penyembuhan gigitan hewan berbisa. Caranya, keris tersebut direndam terlebih dahulu sebelum digunakan.
Selain itu, keris Bali juga kerap digunakan untuk keperluan pembelaan diri serta dalam upacara pernikahan.
Keris Bali memiliki tiga bagian utama yaitu mata pisau, pegangan keris, dan sarung keris.
Pegangan atau gagang keris dibuat dari kayu dan dihiasi dengan permata sebagai ornamen. Sementara itu, bilah atau mata pisau keris dibuat dari campuran besi dan logam, yang memberikan kekuatan serta keunikan pada senjata tradisional ini.
Keunikan keris Bali terletak pada ukiran khas yang terdapat pada gagangnya, menjadikannya berbeda dengan keris dari daerah lain. Motif ukiran pada keris Bali bervariasi, seperti gambar raksasa, penari, pertapa hutan, pendeta, hingga motif yang menyerupai dewa.
Selain itu, pembungkus wilah keris atau pendok Bali dilapisi dengan selongsong silinder yang umumnya terbuat dari emas, lengkap dengan hiasan tambahan berupa tali emas atau bunga, yang semakin menambah nilai estetika dan kemewahannya.
Selain ukiran dan pendok, keunikan keris Bali juga terletak pada penamaannya, yang didasarkan pada jumlah luk atau lekukan pada bilah keris.
Masyarakat Bali memiliki aturan khusus dalam memberi nama keris, yang bergantung pada apakah jumlah luk tersebut ganjil atau genap. Penamaan ini dianggap penting dan berhubungan dengan makna serta tujuan penggunaan keris tersebut dalam budaya Bali. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni