RADARTUBAN- Manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun penting bagi jam kerja yang diberlakukan untuk tetap stabil dan manusiawi.
Jam kerja yang terlalu panjang dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental, dan tentunya menurunkan kualitas produktivitas karyawan. Oleh karena itu, banyak ahli dan pemimpin bisnis yang memperdebatkan jumlah jam kerja ideal dalam waktu seminggu.
Sejumlah tokoh di dunia memiliki pandangan berbeda mengenai jumlah jam kerja yang seharusnya diterapkan bagi karyawan.
Pada tahun 2024, S.N. Subrahmanyan, Ketua dan Direktur Pelaksana Larsen & Toubro (L&T), mengusulkan agar seorang karyawan bekerja selama 90 jam per minggu, termasuk bekerja pada hari Minggu. Hal tersebut memancing munculnya berbagai perdebatan, terutama terkait dampaknya terhadap kesejahteraan pekerja.
Tak lama setelah pernyataan tersebut, Elon Musk, pendiri Tesla dan SpaceX, juga mengungkapkan pandangannya melalui platform media sosial X.
Elon Musk menyatakan bahwa karyawan yang bekerja di Department of Government Efficiency (DOGE) memiliki jam kerja yang mencapai 17 jam sehari, atau setara dengan 120 jam per minggu.
Pernyataan tersebut kembali menimbulkan kontroversi karena jam kerja yang sedemikian panjang dianggap tidak realistis dan bisa membahayakan kesehatan para pekerja.
Pernyataan kedua tokoh ini memicu pertanyaan besar: Apakah jam kerja yang panjang benar-benar dapat meningkatkan produktivitas karyawan? Ataukah justru berdampak negatif terhadap kesehatan dan kualitas kerja mereka?
Sebagian besar negara di dunia, termasuk Indonesia, telah menetapkan standar jam kerja yang lebih manusiawi dibandingkan dengan usulan yang diajukan oleh Subrahmanyan dan Musk.
Di Indonesia, Undang-Undang Ketenagakerjaan menetapkan bahwa jam kerja yang ideal adalah 40 jam per minggu. Standar ini dianggap telah mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi, produktivitas, dan kesejahteraan pekerja.
Menurut laporan dari International Journal of Environmental Research and Public Health, karyawan yang memiliki jam kerja lebih panjang dari standar yang dianjurkan cenderung lebih rentan untuk mengalami berbagai gangguan kesehatan, baik fisik maupun mental.
Jika seorang karyawan mengalami penurunan kesehatan akibat jam kerja yang berlebihan, maka produktivitas mereka tentunya juga akan berkurang.
Beberapa studi epidemiologi menunjukkan bahwa jam kerja yang terlalu panjang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius.
Dampak negatif dari jam kerja yang panjang antara lain: Penyakit kardiovaskular, Kelelahan kronis, Stres dan depresi, Kecemasan berlebih, Gangguan kualitas tidur, Hipertensi, Infark miokard (serangan jantung). (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni