RADARTUBAN- PT Len Industri memproduksi motor listrik trail bernama Sprint, yang telah digunakan oleh TNI AD, termasuk personel Babinsa dan Polisi Militer.
Menurut Brigjen Frega Wenas, selaku Karo Infohan Kementerian Pertahanan, motor listrik buatan PT Len Industri memiliki spesifikasi yang cocok dengan kebutuhan TNI AD.
"Jadi kalau yang motor listrik ya, itu kan sudah distribusi untuk Angkatan Darat, untuk Babinsa, termasuk juga dengan Satuan Pengawalan, karena motor listrik yang dibuat oleh LEN ini, juga termasuk motor pengawalan di Polisi Militer, di TNI," kata Frega di PT Len Industri, Bandung, Jawa Barat, Rabu (26/2).
Frega menyatakan bahwa motor listrik tersebut sejalan dengan semangat penggunaan energi terbarukan.
Dia juga menambahkan bahwa hal ini menjadi salah satu pertimbangan dalam penggunaan motor listrik tersebut.
Motor listrik yang sudah terdistribusi ini merupakan produk berkualitas dan selaras dengan kebijakan energi terbarukan. Oleh karena itu, hal ini menjadi salah satu pertimbangan dalam pembangunan logistik.
Selain motor listrik, PT Len juga memproduksi becak listrik. Direktur Operasi PT Eltran Indonesia, Sentot, menyebutkan bahwa becak listrik tersebut dipesan oleh Setneg dan turut dipasarkan untuk mendukung sektor pariwisata.
Saat ini, pihaknya telah menjalin kerja sama dengan Setneg terkait becak listrik. Ke depan, becak listrik ini akan dipasarkan kepada masyarakat, khususnya untuk mendukung sektor pariwisata dan area-area yang berfokus pada pelestarian nilai-nilai budaya Indonesia.
Direktur Bisnis dan Kerja Sama PT Len Industri, Irwan Ibrahim, menjelaskan bahwa proses produksi di perusahaannya dipengaruhi oleh stabilitas geopolitik.
Menurutnya, rantai pasok global memiliki dampak besar terhadap kebutuhan industri pertahanan.
Sebagai contoh, ia menyebutkan bahwa suplai chip atau semikonduktor terdampak oleh perang Rusia-Ukraina.
Selain itu, pasokan chip untuk industri pertahanan di Indonesia juga terpengaruh oleh regulasi dalam negeri Amerika Serikat.
Irwan menjelaskan stabilitas geopolitik memiliki pengaruh besar terhadap pasokan chip yang dibeli, terutama akibat gangguan suplai yang disebabkan oleh konflik seperti perang antara Ukraina dan Rusia.
"Dengan adanya blok, Chips and Science Act dari Amerika, itu mengganggu. Kita sebagai negara berkembang membutuhkan hal ini, dan mari kita lihat, dan seperti apa nanti perkembangan geopolitik ini, tapi yang pasti itu bisa menjadi risiko buat kita," kata Irwan, di Bandung, Jawa Barat, Rabu (26/2).
Ia mengungkapkan bahwa PT Len Industri berupaya mengatasi dampak geopolitik tersebut. Salah satu langkah yang diambil adalah mencari pemasok dari negara lain yang dapat memenuhi kebutuhan industri dalam negeri Indonesia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni