RADARTUBAN - Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terus melanda dunia usaha di Indonesia dalam awal tahun ini.
Setelah sebelumnya ribuan buruh terkena PHK, kini Yamaha Music Indonesia menyusul daftar panjang perusahaan yang melakukan perampingan tenaga kerja.
Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Kemenaker, Indah Anggoro Putri, mengungkapkan bahwa serikat pekerja Yamaha Music telah menemui Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli untuk membahas rencana PHK tersebut.
"Jadi waktu datang sekitar 10 hari lalu ke Pak Menteri, memang sudah di-sounding-kan akan ada PHK dari Yamaha," ujar Indah di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (28/2).
Pemerintah meminta Yamaha Music memastikan bahwa PHK dilakukan sesuai aturan dan kemampuan perusahaan. Jika perusahaan tak mampu memberikan pesangon sesuai regulasi, maka PHK harus dilakukan atas kesepakatan bersama antara perusahaan dan karyawan.
"Intinya diminta untuk harus sesuai dengan hak, kewajiban, dan kemampuan perusahaan," tegasnya.
Sritex PHK Ribuan Karyawan
Di Jawa Tengah, ribuan karyawan PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) juga terdampak PHK setelah perusahaan dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang.
Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) PT Sritex, Widada, mengatakan para buruh mulai mengisi surat PHK sebagai syarat pencairan Jaminan Hari Tua (JHT).
"Itu tadi pada ngisi sebagian. Kalau di-PHK kan ada suratnya," ujar Widada di Sukoharjo, Jawa Tengah.
Selain itu, para karyawan juga berharap perusahaan membayar gaji tepat waktu. Sebelumnya, pembayaran gaji Februari terlambat hingga delapan hari, menyebabkan kesulitan bagi buruh dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Karyawan molor gajinya itu bikin repot, kan buat bayar utang, angsuran," tambahnya.
Saat ini, Sritex memiliki 6.660 karyawan, yang sebagian besar tengah mengurus jaminan kehilangan pekerjaan dan menunggu kepastian soal pesangon.
Gelombang PHK Merambah KFC dan Sanken
Selain Yamaha Music dan Sritex, kabar PHK juga menyelimuti perusahaan lain, termasuk:
KFC Indonesia, restoran cepat saji yang dikabarkan melakukan efisiensi tenaga kerja.
Sanken Indonesia, perusahaan elektronik asal Jepang yang menutup pabriknya di Bekasi, menyebabkan hampir 1.000 karyawan kehilangan pekerjaan.
PT Tokay Bekasi, yang turut melakukan PHK terhadap ratusan buruh.
Menurut laporan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), total pekerja yang terkena PHK sejak awal tahun sudah mencapai 3.000 orang, dan jumlah ini diperkirakan terus bertambah.
Presiden KSPI, Said Iqbal, mengungkapkan bahwa ancaman PHK juga menghantui sektor otomotif, terutama industri truk dan dump truck, akibat banjir impor dari China yang tidak terkendali.
"Buruh yang terkena PHK sejak Januari-Februari 2025 sekitar 3.000 orang dan akan bertambah," ujarnya.
Iqbal juga menilai pemerintah kurang serius dalam menangani gelombang PHK massal ini. Ia menyebut Menteri Investasi, Menteri Ketenagakerjaan, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, dan Menko Perekonomian sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas kondisi ini.
"Jika tidak ada langkah nyata dari pemerintah, maka angka pengangguran akan semakin tinggi dan industri nasional bisa terancam runtuh," tegasnya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama