RADARTUBAN - Bupati Blora, Arief Rohman, mengungkapkan keprihatinannya atas kejadian tragis yang menimpa seorang ayah dan anak yang meninggal setelah meminum air bercampur racun.
Lebih miris lagi, dugaan awal menunjukkan bahwa peristiwa ini melibatkan kerabat korban sebagai pelaku utama.
"Saya sangat prihatin," ujar Arief ketika ditemui wartawan usai melaksanakan salat tarawih di kediaman orangtuanya yang berlokasi di Desa Sendangwungu, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, pada Sabtu (1/3) malam.
Arief juga menyampaikan rasa syukurnya karena pihak kepolisian berhasil menangkap pelaku yang sempat melarikan diri ke Samarinda, Kalimantan Timur.
"Alhamdulillah, pelakunya sudah ditemukan. Saya mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan oleh kepolisian," katanya.
Selain itu, Arief menyatakan bahwa dirinya tidak menutup kemungkinan untuk berkunjung ke rumah keluarga korban guna menyampaikan belasungkawa atas peristiwa yang memilukan tersebut.
Kronologi Peristiwa
Kasus ini bermula pada Jumat (21/2) di Desa Sambonganyar, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, ketika seorang pria bernama Muslikin, 45, dan anak perempuannya, SKP, 9, ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri usai mengonsumsi air yang diduga telah dicampur dengan racun.
Pihak kepolisian kemudian menangkap terduga pelaku berinisial MK yang telah melarikan diri ke Samarinda, Kalimantan Timur, pada Selasa (25/2).
Untuk menguatkan bukti dalam penyelidikan, polisi juga melakukan ekshumasi atau pembongkaran makam korban pada Jumat (28/2) guna melakukan otopsi dan mengetahui jenis racun yang masuk ke dalam tubuh mereka.
Kejadian tragis ini terungkap ketika anak korban berlari ke jalan raya sambil berteriak histeris meminta pertolongan, setelah melihat ayahnya tergeletak di teras rumah pada Jumat (21/2) pukul 19.30 WIB.
Saat itu, istri korban yang baru saja pulang dari pengajian juga ikut meminta bantuan warga.
Beberapa warga yang datang ke lokasi menemukan Muslikin dalam kondisi telentang di teras rumah dengan mulut berbusa dan tidak sadarkan diri.
Mereka segera mengangkat korban ke dalam rumah, membaringkannya di kasur, serta mencoba memberikan pertolongan dengan memijat dan mengoleskan minyak kampak. Namun, tidak ada respons dari korban.
Tak berselang lama, anak korban tiba-tiba juga mengalami kelemahan tubuh. Saat itu, seorang warga meminumkan air dari botol air mineral yang ada di rumah korban kepada anak tersebut.
Setelah meminum air tersebut, kondisi anak korban semakin memburuk, hingga akhirnya dilarikan ke puskesmas. Sayangnya, setibanya di fasilitas kesehatan, nyawa anak tersebut tidak dapat diselamatkan dan ia dinyatakan meninggal dunia, dengan kondisi mulut mengeluarkan busa.
Sementara itu, istri korban juga sempat meminum air dari botol tersebut. Namun, karena merasakan rasa pahit, ia segera memuntahkannya, meskipun tetap mengalami gangguan kesehatan yang membuatnya harus mendapatkan perawatan di puskesmas.
Kecurigaan semakin menguat ketika air dari botol tersebut diberikan kepada seekor ayam, yang dalam hitungan menit langsung mati.
Kasus ini pun segera dilaporkan kepada pihak kepolisian, yang kemudian melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap fakta di balik peristiwa tragis ini. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama