Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ilmuwan Muda Indonesia Mengklaim Ciptakan Obat Kanker dan Diabetes dari Bahan Alami, Ternyata Bahan Sederhana

Siti Nur Mukaromatun Nisa • Rabu, 5 Maret 2025 | 20:30 WIB
Fahrul Nurkolis, peneliti dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Fahrul Nurkolis, peneliti dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

RADARTUBAN - Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan hayati yang luar biasa. Ribuan spesies tumbuhan yang tersebar di seluruh nusantara memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai obat alami.

Namun, perjalanan dari bahan mentah hingga menjadi obat yang dapat dikomersialkan masih penuh tantangan. Salah satu ilmuwan muda yang mencoba menjawab tantangan ini adalah Fahrul Nurkolis, peneliti dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Fahrul, yang baru berusia 25 tahun, baru saja menerima hak paten atas senyawa bioaktif yang ia teliti. Dilansir dari tempo.co, paten untuk invensi tersebut diberikan selama 10 tahun terhitung sejak tanggal penerimaan pada 21 November 2024 lalu.

Fokus risetnya adalah mencari solusi pengobatan antikanker dan antidiabetes berbasis bahan alam.

Dalam penelitiannya, dia mengeksplorasi potensi tiga tanaman: Echinacea purpurea, anggur laut, dan bawang dayak.

Ketiga tanaman ini telah lama dikenal memiliki manfaat kesehatan, tetapi Fahrul membawa penelitian ini ke tingkat yang lebih dalam dengan menggunakan teknologi modern.


Dalam risetnya, Fahrul dan timnya mengidentifikasi senyawa bioaktif yang berperan dalam menghambat pertumbuhan sel kanker serta meningkatkan sensitivitas insulin.

Salah satu temuannya yang signifikan adalah senyawa Pudjialanine rudyline dari tanaman anggur laut yang berpotensi menjadi obat diabetes. Paten atas invensi ini telah diberikan sejak November 2024 dan berlaku selama 10 tahun ke depan.

Penelitiannya menggunakan pendekatan yang canggih dan terstruktur. Dengan metode in silico, dia melakukan simulasi interaksi senyawa dengan target molekuler untuk memprediksi efektivitasnya.

Langkah berikutnya adalah uji in vitro, di mana senyawa tersebut diuji pada kultur sel untuk melihat bagaimana ia bekerja dalam kondisi laboratorium.

Tahap terakhir, in vivo, melibatkan pengujian pada hewan model guna memastikan efektivitas dan keamanannya sebelum melangkah ke uji klinis.


Meski telah menemukan senyawa potensial, perjalanan untuk menjadikannya obat yang tersedia di pasaran masih panjang.

Fahrul menyoroti bahwa tantangan terbesar dalam penelitian farmasi berbasis bahan alam di Indonesia adalah keterbatasan infrastruktur, regulasi yang ketat, serta minimnya pendanaan untuk riset lanjutan.

Tanpa dukungan dari industri dan pemerintah, banyak inovasi yang berisiko terhenti di tahap laboratorium tanpa pernah sampai ke masyarakat.

Dia menekankan pentingnya optimasi proses isolasi senyawa dan validasi biologis lebih lanjut. Selain itu, diperlukan kerja sama dengan industri farmasi agar penelitian ini dapat dikembangkan hingga tahap produksi massal.

Fahrul juga mengingatkan bahwa tanpa langkah konkret dalam hilirisasi riset, Indonesia hanya akan menjadi pengekspor bahan mentah, sementara negara lain mengolahnya menjadi produk farmasi bernilai tinggi.

Sebagai lulusan terbaik dan tercepat di Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga, Fahrul memiliki visi besar untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat penelitian farmasi berbasis bahan alam.

Dia aktif dalam berbagai forum akademik internasional, seperti Nordic Nutrition Conference di Finlandia, Asian Congress of Nutrition di China, dan International Conference on Nutrition and Growth di Portugal. 

Dia berharap agar riset-riset Indonesia semakin mendapat perhatian global dan dapat bersaing di panggung internasional.

Menurutnya, dikutip dari tempo.co, dengan sumber daya alam yang melimpah dan ilmuwan berbakat, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin dalam industri farmasi berbasis bahan alam. Kuncinya adalah memperkuat ekosistem riset dan inovasi agar temuan-temuan ilmiah bisa diimplementasikan dalam dunia nyata dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Jika bisa mengatasi kendala dalam hilirisasi riset, kata Fahrul, Indonesia bisa menjadi pemimpin global dalam industri farmasi berbasis bahan alam. Dengan semangat dan dedikasi ilmuwan muda seperti dirinya, harapan tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga #diabetes #Alami #peneliti #ilmuwan #obat kanker