RADARTUBAN - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf, yang dikenal sebagai Gus Ipul, mempercepat upaya pengentasan kemiskinan dengan menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di Jawa Barat.
Langkah ini bertujuan untuk memastikan program-program sosial lebih terarah, sinergis, berkelanjutan, dan efektif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Beberapa kampus yang ikut berkolaborasi antara lain Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Padjadjaran, Universitas Pendidikan Indonesia, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Universitas Siliwangi Tasikmalaya, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Bekasi, Universitas Pasundan Bandung, Universitas Islam Bandung, Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon, serta Universitas Maranatha Bandung.
Menurut Gus Ipul, perguruan tinggi memiliki peran besar dalam mendukung pembangunan sosial melalui riset dan pengabdian masyarakat.
Oleh sebab itu, sinergi antara Kementerian Sosial (Kemensos) dan institusi pendidikan tinggi akan berlandaskan pada kajian akademik yang dapat membantu merancang intervensi yang tepat dan berkelanjutan.
Sebagai langkah awal, program ini akan diterapkan di desa-desa dengan jumlah penduduk miskin dan miskin ekstrem yang tinggi.
“Kita mulai dari memilih satu desa yang tinggi jumlah masyarakat miskin dan miskin ekstremnya, setelah itu kita akan susun rencana intervensi secara bersama-sama,” ujar Gus Ipul.
Beberapa program potensial yang bisa dikerjasamakan dengan perguruan tinggi antara lain Kampung Anti Miskin dan Sekolah Rakyat.
Untuk program Kampung Anti Miskin, pemerintah akan lebih fokus pada upaya menurunkan angka kemiskinan ekstrem di wilayah Jawa Barat.
Gus Ipul menekankan bahwa sekitar 52,45 persen penduduk miskin di Indonesia berada di tiga provinsi, yakni Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Dia meyakini, jika kemiskinan di ketiga wilayah tersebut bisa ditekan secara signifikan, maka angka kemiskinan nasional bisa turun hingga 50 persen.
Pemerintah menargetkan kemiskinan ekstrem bisa mencapai 0 persen pada 2026. Oleh sebab itu, kerja sama dengan kampus dianggap sebagai strategi efektif dalam mendukung program ini.
Selain intervensi berbasis data, program ini juga mencakup pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Gus Ipul menekankan pentingnya pelatihan yang bisa membantu warga desa agar lebih mandiri dan produktif.
“Bisa melalui pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan oleh masyarakat setempat, itu semua terencana dengan baik. Sehingga kita ingin paling tidak di desa itu tidak ada lagi orang yang nganggur, tidak ada lagi yang miskin. Karena semua kreatif, semua memanfaatkan sumber daya yang ada,” ungkapnya.
Dia juga mengingatkan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada kesinambungan dan kerja sama berbagai pihak.
Oleh karena itu, dia menegaskan pentingnya koordinasi yang baik antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat.
“Enggak usah pakai ego sektoral karena itulah yang menghambat kerja kita selama ini. Mari kita gempur sama-sama,” tambahnya.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Teknik Industri ITB, Lienda Aliwarga, menyambut baik kolaborasi ini.
Dia menyebutkan bahwa kampusnya telah menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi sirkular di Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung.
“Melalui pemberdayaan sirkuler seperti pengeringan dan pengolahan pangan daun stevia, pengeringan lemon, dan pengolahan kotoran sapi menjadi biogas. Itu semua bisa menggerakkan ekonomi lokal setempat,” ujar Lienda.
Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat pencapaian target pengentasan kemiskinan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat di desa-desa. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni