RADARTUBAN - Masyarakat Indonesia berinisiatif membangun Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) di Gaza City, Jalur Gaza. Menurut organisasi Aqsa Working Group (AWG), proyek ini akan mulai dikerjakan pada April mendatang.
“Jika tidak ada halangan, kami akan memberangkatkan tim pendahulu untuk memulai pembangunan RSIA Indonesia Gaza pada awal bulan Syawal (April 2025) setelah Lebaran, Insya Allah,” kata Ketua Presidium AWG M. Anshorullah.
Anshorullah menyatakan bahwa pembangunan RSIA Indonesia akan dimulai dengan peletakan batu pertama, yang akan dikoordinasikan oleh tim pendahulu.
Selain itu, tim ini juga bertugas menyelesaikan berbagai urusan administrasi dengan Kementerian Kesehatan Gaza sebelum pembangunan dimulai.
Ia menjelaskan bahwa ide pembangunan RSIA oleh AWG dan Maemuna Center muncul karena tingginya jumlah wanita dan anak-anak Palestina yang menjadi korban dalam agresi Israel ke Jalur Gaza, mencapai hingga 60 persen.
Karena itu, keberadaan RSIA menjadi semakin penting untuk menyediakan layanan kesehatan khusus bagi wanita dan anak-anak di Gaza.
Anshorullah juga memastikan bahwa setelah selesai dibangun, rumah sakit ini akan sepenuhnya dioperasikan oleh pihak Palestina, dengan tenaga kesehatan yang berasal dari wilayah Jalur Gaza sendiri.
Ketua Tim Konstruksi RSIA Indonesia, Edy Wahyudi, menyampaikan bahwa tenaga kerja untuk pembangunan rumah sakit ini akan terdiri dari 75 persen relawan asal Indonesia dan 25 persen warga setempat.
“Kami ingin rumah sakit ini benar-benar menjadi hasil karya anak bangsa Indonesia,” kata Edy.
Berdasarkan rencana yang disampaikan oleh AWG dan Maemuna Center, RSIA Indonesia di Gaza City akan dibangun di atas lahan wakaf seluas 5.000 meter persegi yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan Palestina. Lokasinya berada di dekat RS Anak Al-Rantisi yang mengalami kerusakan parah.
Pembangunan rumah sakit ini diperkirakan menelan biaya hingga Rp402 miliar dan akan dilengkapi dengan 100 tempat tidur rawat inap, serta berbagai fasilitas seperti unit gawat darurat, ICU, ruang persalinan, bedah, rawat jalan, dan laboratorium. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni