RADARTUBAN - Media sosial di Indonesia kini tengah ramaikan dengan perbincangan mengenai revisi Undang-Undang TNI, yang ditandai dengan viralnya tagar Tolak Revisi UU TNI (#TolakRUUTNI) hingga artikel ini ditulis.
Tagar ini mulai menyebar luas setelah terungkapnya rapat panitia kerja (panja) DPR yang berlangsung di Hotel Fairmont, Jakarta, pada Sabtu, 15 Maret 2025.
Rapat yang membahas daftar inventarisasi masalah (DIM) dalam revisi UU TNI ini digelar dengan cara tertutup selama dua hari, yaitu pada 14-15 Maret 2025.
Keberadaan rapat tersebut akhirnya bocor ke publik setelah sejumlah perwakilan dari Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan menggerebek lokasi rapat pada Sabtu.
Perwakilan koalisi yang hadir berhasil masuk ke dalam ruangan rapat tanpa adanya pengawalan. Mereka kemudian menginterupsi jalannya diskusi dan menyampaikan alasan keberatan mereka terhadap revisi undang-undang.
Tetapi, aksi mereka berlangsung singkat. Petugas keamanan hotel segera mengeluarkan paksa para aktivis keluar dari ruangan. Salah satu orator aksi bahkan sampai terjatuh akibat dorongan yang diberikan oleh petugas keamanan saat diusir dari ruangan rapat.
Momen penggerudukan yang dilakukan oleh aktivis KontraS tersebut berhasil diabadikan dalam sebuah video yang kemudian viral di media sosial. Seiring dengan itu, tagar Tolak RUU TNI mulai menggema dan trending di berbagai platform.
Para pengguna media sosial pun mulai menyuarakan sikap mereka dengan mengajak masyarakat untuk menolak rencana revisi UU TNI.
Salah satu akun di platform X, @barengwarga, menjadi yang pertama mengangkat tagar ini dengan unggahan yang berbunyi, "Teman-teman @KontraS sudah berjuang langsung, sekarang saatnya kita warga bergerak di digital, ramaikan #TolakRUUTNI!" Unggahan tersebut disertai dengan video aksi aktivis KontraS di Hotel Fairmont.
Tidak hanya masyarakat biasa, sejumlah figur publik juga turut bersuara. Penyanyi Baskara Putra atau yang dikenal dengan nama Hindia menampilkan tulisan "You pass the law, we start the war" dalam salah satu unggahannya.
Tulisan tersebut bahkan dijadikan latar visual saat ia tampil di panggung konser, disertai dengan tagar Tolak RUU TNI.
Tak hanya itu, beberapa warganet juga menyoroti ketimpangan dalam kebijakan ketenagakerjaan di Indonesia. Mereka mengkritik rencana revisi UU TNI yang memungkinkan aparat militer menduduki jabatan sipil, sementara di sisi lain banyak masyarakat sipil yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Salah satu pengguna X dengan nama akun @Joyyyyyyyyu menuliskan, serem banget loh kalo jabatan sipil nanti ditempatin tni juga, trus warga sipil kerjanya jadi rakyat jelata aja gitu?. #TolakRUUTNI."
Pengguna lainnya, @Heszkiel_Hendra, juga mengungkapkan kritiknya dengan menulis, " Bayangkan militer masuk kedalam kementerian sipil, sebutlah kemendag, lalu militer boleh berbisnis juga, ketika keluarga militer mau membuka bisnis dibuatlah beragam kemudahan karena yang pegang kemendag militer juga."
Gerakan menolak revisi UU TNI tidak hanya dilakukan di dalam negeri, tetapi juga mulai menyasar perhatian internasional. Para aktivis dan warganet berinisiatif untuk menyebarluaskan informasi ini kepada media dan jurnalis asing.
Dalam siaran pers yang beredar, disebutkan bahwa salah satu kekhawatiran utama masyarakat terhadap revisi ini adalah potensi kembalinya konsep dwifungsi TNI.
Konsep tersebut, yang memungkinkan militer memiliki peran ganda di bidang pertahanan dan sektor sipil, sudah dihapuskan pascareformasi 1998 demi menjaga profesionalisme militer dan supremasi sipil dalam sistem demokrasi Indonesia.
Oleh karena itu, para aktivis menegaskan bahwa revisi ini berisiko menghidupkan kembali praktik yang bertentangan dengan prinsip demokrasi tersebut.
Tidak hanya di media sosial, aksi penolakan terhadap revisi UU TNI juga terjadi secara langsung di lokasi rapat.
Sejumlah masyarakat mendatangi Hotel Fairmont sejak dini hari pada Minggu, 16 Maret 2025, dengan harapan bisa menyampaikan aspirasi mereka secara langsung.
Namun, mereka tidak bisa masuk ke dalam hotel karena terdapat penjagaan yang cukup ketat. Deretan mobil Kopassus terlihat parkir dan berjaga di halaman depan hotel, mengelilingi area tersebut dan membatasi akses masuk para warga yang ingin berpartisipasi dalam aksi protes.
Salah satu akun X, @barengwarga, mengunggah video yang menunjukkan situasi di luar hotel dengan narasi, "Ketatnya penjagaan oleh tentara yang mengelilingi Fairmont membuat kami tidak bisa masuk dan memaksa untuk mengurangi risiko. #TolakRUUTNI."
Semakin banyaknya dukungan dari publik dan meningkatnya perhatian internasional, gerakan ini terus berkembang.
Masyarakat yang melakukan tolak revisi UU TNI berharap agar suara mereka didengar oleh para pembuat kebijakan, sehingga rancangan undang-undang tersebut dapat dilakukan kaji ulang secara transparan dan melibatkan partisipasi publik yang lebih luas. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni