Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Perempuan Terkaya di Indonesia Ini Mengalami Penurunan Harta Rp 59,49 T Dalam 3 Hari, Kok Bisa?

Bihan Mokodompit • Kamis, 20 Maret 2025 | 18:05 WIB
Perempuan terkaya di Indonesia alami penurunan harta
Perempuan terkaya di Indonesia alami penurunan harta

RADARTUBAN – Presiden Komisaris PT DCI Indonesia Tbk (DCII), Marina Budiman, mengalami penurunan nilai kekayaan setelah saham perusahaan pusat data tersebut mengalami koreksi signifikan.

Dalam tiga pekan terakhir, kekayaannya sempat meningkat hingga mencapai USD 350 juta. Namun, pada Selasa (18/3), harga saham DCII jatuh, berdampak pada kekayaannya.

Mengutip Yahoo Finance, pada pertengahan Maret 2025, kekayaan Marina Budiman sempat menembus USD 7,5 miliar, menjadikannya wanita terkaya di Indonesia berdasarkan Bloomberg Billionaires Index.

Namun, dalam tiga hari, nilai kekayaannya turun drastis sebesar USD 3,6 miliar atau sekitar Rp 59,49 triliun (dengan asumsi kurs rupiah terhadap dolar AS di kisaran 16.525).

 

Penurunan saham DCII menyebabkan kekayaan bersih Marina Budiman menyusut hampir setengahnya. Menurut data Forbes, pada 19 Maret 2025, kekayaannya tercatat di angka USD 4,4 miliar, turun sekitar 4,16 persen atau setara USD 190 juta.

Tidak hanya Marina Budiman, pemegang saham utama DCII lainnya, seperti Otto Toto Sugiri dan Han Arming Hanafia, juga mengalami lonjakan dan penurunan kekayaan yang signifikan.

Sebelum harga saham terpuruk, ketiganya sempat melihat akumulasi kekayaan gabungan mereka meningkat lebih dari USD 17 miliar.

Pada penutupan perdagangan Selasa (18/3), saham DCII telah kehilangan lebih dari separuh kenaikan yang terjadi sejak awal reli pada pertengahan Februari 2025.

 

Pasar modal Indonesia semakin diwarnai volatilitas tinggi, dengan beberapa saham perusahaan mencatat lonjakan lebih dari 1.000 persen dalam beberapa tahun terakhir. Saham DCII pun tak luput dari tren tersebut.

Pada Selasa (18/3), saham perusahaan ini ditutup melemah dengan kapitalisasi pasar mendekati USD 17 miliar. Berdasarkan data Bloomberg, saham DCII diperdagangkan dengan rasio harga terhadap laba (P/E ratio) mencapai 416 kali, tertinggi di antara perusahaan sejenis.

Koreksi tajam pada saham DCII terjadi karena rendahnya volume perdagangan harian.

Mayoritas saham perusahaan ini dipegang oleh pemegang saham utama, termasuk Marina Budiman, Otto Toto Sugiri, Han Arming Hanafia, dan Anthoni Salim, yang menguasai 78 persen saham.

Dari total 2,4 miliar lembar saham yang beredar, hanya 80.400 saham yang berpindah tangan pada perdagangan Rabu siang di Bursa Efek Indonesia.

Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan volume perdagangan harian saham perusahaan lain dengan kapitalisasi pasar serupa.

Fund Manager SGMC Capital Pte di Singapura, Mohit Mirpuri, menilai bahwa "Perubahan harga saham DCI sebagian besar disebabkan oleh jumlah saham yang beredar bebas yang sangat terbatas."

 

Pada perdagangan Selasa (18/3), saham DCII menjadi salah satu yang mengalami koreksi terbesar di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Berdasarkan data RTI, harga saham DCII anjlok 20 persen menjadi Rp 115.800 per lembar saham. Pada pembukaan perdagangan, saham ini sudah turun ke level Rp 126.000, dibandingkan dengan harga penutupan sebelumnya di Rp 144.750.

Frekuensi transaksi saham DCII tercatat sebanyak 163 kali, dengan volume perdagangan hanya 227 lembar dan nilai transaksi harian mencapai Rp 2,7 miliar.

Di sisi lain, IHSG juga mengalami tekanan dan ditutup turun 3,84 persen ke level 6.223,38. Indeks LQ45 turun 2,79 persen ke posisi 709,01. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 554 saham melemah, 118 saham menguat, dan 139 saham stagnan.

Dalam sesi perdagangan tersebut, IHSG sempat mencapai level tertinggi 6.465,22 sebelum turun ke posisi terendah 6.011,84.

Total frekuensi transaksi mencapai 1.548.289 kali, dengan volume perdagangan mencapai 29,5 miliar saham dan nilai transaksi harian sebesar Rp 19,3 triliun. Kurs rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran 16.420.

 

Seluruh sektor saham mengalami pelemahan pada perdagangan Selasa (18/3), dengan sektor teknologi mencatat koreksi terdalam sebesar 9,77 persen.

Sektor energi juga turun 3,43 persen, sementara sektor bahan baku susut 5,99 persen. Sektor industri merosot 1,47 persen, sektor barang konsumsi nonsiklikal melemah 2,32 persen, dan sektor barang konsumsi siklikal turun 3,06 persen.

Sementara itu, sektor kesehatan mencatat penurunan 2,67 persen, sektor keuangan turun 1,98 persen, dan sektor properti melemah 3,33 persen.

Sektor infrastruktur juga terpangkas 3,03 persen, sedangkan sektor transportasi turun 2,11 persen.

Sebelum mengalami koreksi tajam dalam beberapa hari terakhir, saham DCII sempat menikmati kenaikan yang dipicu oleh ekspektasi investor terhadap pertumbuhan industri pusat data di Indonesia.

Optimisme ini juga didorong oleh harapan masuknya investasi asing ke sektor tersebut.

Meski demikian, volatilitas yang tinggi serta rendahnya likuiditas saham DCII membuat pergerakan harga sahamnya sangat sensitif terhadap perubahan pasar.

Hingga saat ini, pihak DCI Indonesia belum memberikan tanggapan resmi terkait penurunan saham yang terjadi. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#kekayaan #PT DCI Indonesia Tbk #Marina Budiman #DCII #ihsg #penurunan harta