RADARTUBAN – Arus balik Lebaran 2025 telah menunjukkan peningkatan di Pelabuhan Bakauheni, Lampung.
Meski demikian, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mencatat bahwa baru sekitar 30 persen pemudik yang kembali ke Pulau Jawa dari Sumatera.
Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Heru Widodo, menyampaikan bahwa tren arus balik kali ini tidak serentak.
Banyak pemudik memilih untuk berlibur sejenak di wilayah Sumatera sebelum pulang ke Jawa.
“Pergerakan arus balik dari Sumatera ke Jawa lebih tersebar dibandingkan arus mudik dari Merak ke Sumatera. Banyak pemudik memilih berwisata terlebih dahulu di Sumatera, sehingga arus balik terbagi dalam beberapa hari,” ujar Heru.
Hingga saat ini, data yang diterima dari ASDP menunjukkan bahwa baru sekitar 30 persen pemudik yang sudah kembali dari Sumatera.
Menurut Heru, lonjakan arus balik diprediksi akan berlangsung bertahap mulai H+3 hingga H+7 Idulfitri.
“Sampai saat ini, data menunjukkan sekitar 30 persen pemudik telah kembali dari Sumatera. Arus balik diperkirakan akan tersebar mulai H+3 hingga H+7 Lebaran,” tambahnya.
Mengantisipasi kepadatan kendaraan saat puncak arus balik, ASDP bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menyiapkan buffer zone di beberapa titik di sepanjang jalan Tol Trans Sumatera dan jalur arteri.
“Buffer zone disiapkan di KM 87B, 67B, 46B, 33B, dan 20B Tol Trans Sumatera. Sementara di jalur arteri, ada di GOR Way Handak, Rumah Makan Tiga Sodara, dan Terminal Gayam. Ini merupakan bagian dari sistem delay untuk mengatur pergerakan kendaraan menuju pelabuhan agar lebih terdistribusi,” jelasnya.
Bagi para pemudik yang belum kembali ke Pulau Jawa, disarankan untuk tidak terburu-buru.
Manfaatkan fitur pemesanan tiket online dan pantau jadwal keberangkatan secara berkala.
Selain itu, pastikan kendaraan dalam kondisi prima agar perjalanan lebih aman dan nyaman.
Dengan distribusi arus balik yang lebih merata dan dukungan sistem pengendalian lalu lintas yang sudah disiapkan, diharapkan proses kepulangan para pemudik tahun ini bisa berlangsung lancar tanpa hambatan berarti. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni