RADARTUBAN - IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan terjadi penurunan yang cukup tajam pada awal perdagangan hari Selasa (8/4).
IHSG anjlok hingga diangka 9,19 persen ke posisi 5.912,06 sebelum Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan selama 30 menit sesuai regulasi yang berlaku.
Penurunan pada kali ini adalah penurunan yang paling drastis yang terjadi dalam sejarah pasar modal Tanah Air.
Analis pasar modal Hendra Wardana mengungkapkan bahwa terjadinya penurunan yang cukup tajam ini mencerminkan kepanikan yang luar biasa dari pelaku pasar, terlebih setelah liburan panjang lebaran.
Indeks LQ45 yang terdiri dari saham-saham unggulan juga jatuh cukup dalam, menyentuh level 651,46 atau turun 11,31 persen.
Saham-saham besar yang selama ini menjadi penopang IHSG ikut terseret, seperti BBCA yang turun hampir 13 persen, BBRI anjlok lebih dari 14 persen, TLKM melemah hampir 15 persen, BBNI turun sekitar 13 persen, dan ASII yang relatif lebih stabil dengan penurunan sekitar 3,5 persen.
Pemicu utama terjadinya kejatuhan pasar ini menurut Hendra adalah kebijakan baru dari presiden Amerika Serikat, Donal Trump, yaitu naiknya tarif impor hingga 32 persen terhadap berbagai produk dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meskipun ekspor Indonesia ke AS hanya sekitar 9,9 persen dari total ekspor nasional, sentimen negatif dari kebijakan ini cukup kuat karena mencerminkan meningkatnya ketegangan dagang global, risiko perlambatan ekonomi dunia, serta potensi gangguan rantai pasok.
Selain dari faktor eksternal, kurang cepatnya respons dari pemerintah Indonesia sebelum pasar dibuka turut menjadikan kondisi yang lebih buruk.
Ketidakpastian ini menimbulkan kehilangan kepercayaan bagi para pelaku pasar, diperparah dengan tekanan teknikal seperti margin call dan forced sell, terutama pada saham-saham unggulan.
Pengamat pasar lainnya, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa gejolak global memang menjadi faktor utama penurunan IHSG kali ini.
Assuaibi menyoroti dampak dari perang dagang, konflik geopolitik, dan kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat.
Menurut Ibrahim, perang dagang dengan tarif tambahan sebesar 32 persen terhadap produk dari berbagai negara, termasuk Indonesia, dapat menimbulkan kekhawatiran global.
Banyak negara berpikir ulang untuk merespon kebijakan tersebut disebabkan oleh situasi ini, yang pada akhirnya menciptakan ketidakstabilan dan kekhawatiran akan terjadinya resesi global.
Selain itu, data tenaga kerja Amerika yang lebih kuat dari perkiraan meningkatkan spekulasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lama.
Hal ini menambah tekanan terhadap pasar keuangan global, termasuk Indonesia. I
brahim juga menyinggung konflik yang memanas di Timur Tengah dan Eropa, seperti perang di Gaza dan ketegangan antara Rusia dan Ukraina, yang memperburuk kondisi pasar global dan menyebabkan saham teknologi mengalami tekanan besar.
Ibrahim menilai bahwa dengan kondisi yang tidak menentu ini, potensi penghentian sementara perdagangan oleh BEI sudah sesuai dengan prediksi, mengingat IHSG turun lebih dari 8 persen dalam satu sesi.
Namun, di tengah tekanan ini, Hendra melihat adanya peluang bagi Indonesia.
Hendra menyebut bahwa penurunan harga minyak dunia hingga 21 persen akibat perang dagang ini dapat menjadi peluang yang menguntungkan untuk Indonesia sebagai negara pengimpor minyak dan gas, dengan potensi penghematan mencapai US$4 miliar.
Selain itu, penurunan imbal hasil surat utang pemerintah AS membuka peluang arus modal masuk ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Melemahnya dolar AS juga memberikan ruang bagi penguatan rupiah. Hendra menekankan pentingnya diversifikasi pasar ekspor Indonesia ke kawasan lain seperti India, ASEAN, Eropa, dan Afrika.
Secara teknikal, Hendra melihat area support IHSG berada di kisaran 5.800, sementara resistance di level 6.000.
Dia memperkirakan setelah perdagangan dibuka kembali, tekanan akan mulai mereda dan rebound teknikal mungkin terjadi.
Hendra juga menyoroti bahwa pernyataan resmi dari Presiden Prabowo Subianto yang direncanakan keluar siang ini bisa menjadi faktor penting dalam menentukan arah pasar ke depan.
Dia menegaskan bahwa penurunan IHSG kali ini lebih disebabkan oleh sentimen eksternal dan kepanikan pasar, bukan karena faktor fundamental ekonomi dalam negeri yang memburuk.
Untuk para investor jangka panjang, kondisi seperti ini justru dapat menjadi kesempatan untuk mulai mengakumulasi saham-saham unggulan yang sedang mengalami tekanan harga cukup signifikan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni