RADARTUBAN- Presiden Prabowo Subianto mendapat serangkaian pertanyaan kritis dari para pemimpin redaksi dalam pertemuan tertutup di kediamannya di Hambalang, Jawa Barat, Minggu (6/4).
Pertemuan selama tiga jam itu berlangsung terbuka tanpa daftar pertanyaan yang diserahkan sebelumnya.
Jurnalis senior Najwa Shihab yang turut hadir mengungkapkan, para jurnalis bebas mengangkat isu apa pun.
“Semua pertanyaan spontan, bahkan sesama jurnalis tidak tahu akan saling tanya apa,” ujar Najwa.
Isu Revisi Undang-Undang (RUU) TNI menjadi salah satu bahasan utama, mengingat gelombang protes yang meluas di sejumlah daerah.
Prabowo juga ditanya soal dugaan tindakan represif aparat terhadap demonstran dan tenaga medis dalam aksi unjuk rasa.
Selain itu, para pemred juga menyinggung RUU Polri yang dinilai berpotensi menambah kewenangan kepolisian.
“Padahal yang dibutuhkan justru pengawasan terhadap aparat,” kata Najwa.
Isu kebebasan pers juga mengemuka. Prabowo ditanyai soal teror kepala babi dan bangkai tikus yang dikirim ke kantor Tempo.
Saat dimintai tanggapan, Prabowo menilai teror itu sebagai upaya adu domba.
“Saya kira yang lakukan itu ingin mengadu domba. Ingin menciptakan suasana yang tidak baik,” ujar Prabowo.
Diketahui, teror terhadap Tempo terjadi dua kali. Pertama, sebuah kepala babi dikirim ke rumah jurnalis Tempo Francisca Christi pada Kamis (20/3).
Dua hari kemudian, kantor redaksi Tempo menerima kiriman tikus dengan kepala terpenggal.
Wakil Pimpinan Redaksi Tempo, Bagja Hidayat, menyebut kepala babi itu terbungkus kardus dan plastik, serta mengeluarkan bau busuk.
Dalam pertemuan tersebut, isu ekonomi juga tak luput dibahas. Para pemred menanyakan penurunan IHSG, dampak kebijakan tarif Amerika Serikat, ancaman pengangguran, proyek Danantara, hingga soal birokrasi.
Najwa menyimpulkan, pertemuan ini menjadi ruang tanya jawab yang sangat terbuka. “Makanya durasinya sampai tiga jam,” katanya.
Pertemuan ini menjadi perhatian publik di tengah kritik terhadap komunikasi pemerintah dan meningkatnya tekanan terhadap media. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni