RADARTUBAN - Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, mendapat kunjungan dari beberapa menteri Kabinet Indonesia Maju selama masa libur Idulfitri.
Pertemuan dilakukan secara informal di kediaman pribadinya di Kota Solo, Jawa Tengah, pada Jumat (11/4).
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menjadi tamu pertama yang tiba.
Dia mendatangi rumah Jokowi sekitar pukul 09.31 WIB. Pertemuan tersebut berlangsung secara tertutup dan dikonfirmasi sebagai ajang silaturahmi Hari Raya Idulfitri.
Dalam keterangannya kepada awak media, Trenggono menegaskan bahwa hubungannya dengan Jokowi tetap erat meskipun kini berada dalam pemerintahan Presiden terpilih Prabowo Subianto.
“Silaturahmi sama bekas bos saya, sekarang masih bos saya,” ungkapnya kepada wartawan.
Trenggono juga menyebutkan bahwa pertemuan tersebut berlangsung lebih dari satu jam.
Selain membahas kondisi kesehatan mantan Presiden, dia menyebut menerima sejumlah arahan langsung dari Jokowi.
Namun, dia tidak merinci lebih lanjut isi arahan tersebut.
Tak lama berselang, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin datang bersama istrinya.
Dia tiba di lokasi sekitar pukul 10.40 WIB dan disambut hangat oleh tuan rumah.
“Ya ini silaturahmi, karena Pak Jokowi bosnya saya, saya sama ibu mau silaturahmi mohon maaf lahir dan batin juga doain Pak Jokowi dan Ibu sehat,” ujar Budi kepada awak media.
Sebelum dua menteri tersebut, sejumlah pejabat tinggi negara juga telah lebih dulu mengunjungi kediaman Jokowi di Solo.
Pada Kamis (10/4), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang juga Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, datang untuk bersilaturahmi.
Sementara itu, pada malam sebelumnya, yakni Rabu (9/4), Menteri ESDM Bahlil Lahadalia beserta keluarganya hadir di kediaman Jokowi.
Turut hadir dalam kesempatan yang sama adalah Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji.
Kunjungan para menteri ini menunjukkan bahwa meski tak lagi menjabat sebagai presiden aktif, sosok Joko Widodo tetap memiliki pengaruh kuat dalam lingkaran pemerintahan.
Silaturahmi Lebaran ini pun tidak hanya dimaknai sebagai tradisi, tetapi juga bentuk penghormatan kepada pemimpin terdahulu. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni