RADARTUBAN - Masyarakat digemparkan oleh kasus dugaan kekerasan seksual yang terjadi di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
Seorang dokter peserta program pendidikan spesialis (PPDS) Anestesi dari Universitas Padjadjaran diduga membius seorang wanita dan melakukan tindakan tidak senonoh saat korban dalam keadaan tidak sadar.
Insiden ini tidak hanya mencoreng reputasi profesi medis, tetapi juga menyoroti isu krusial dalam dunia kedokteran, yaitu potensi penyalahgunaan anestesi.
Kasus tersebut membuka mata banyak pihak bahwa prosedur medis yang seharusnya berfungsi untuk menyelamatkan dan melindungi pasien bisa disalahgunakan jika berada di tangan yang keliru.
Oleh karena itu, penting bagi publik untuk mengetahui lebih jauh tentang apa itu anestesi, bagaimana mekanismenya, serta pentingnya pelaksanaan yang profesional dan berlandaskan etika.
Anestesi, atau yang dikenal juga sebagai pembiusan, merupakan prosedur medis yang bertujuan menghilangkan rasa sakit, membuat bagian tubuh tertentu mati rasa, atau bahkan menyebabkan pasien tidak sadar sepenuhnya selama menjalani tindakan medis.
Kata "anestesi" berasal dari bahasa Yunani yang secara harfiah berarti "tidak merasakan."
Tujuan utama dari anestesi adalah untuk menghentikan sinyal nyeri dari tubuh agar tidak mencapai otak, sehingga pasien tidak merasakan sakit selama operasi atau prosedur medis lainnya.
Prosedur ini ditangani oleh dokter anestesi atau anestesiolog, yang tidak hanya bertugas memberikan anestesi, tetapi juga mengawasi kondisi pasien dengan cermat sebelum, saat, dan sesudah tindakan medis berlangsung.
Anestesi sendiri ada beberapa macam dan tidak semua membuat pasien tidak sadarkan diri. Berikut ini jenis anestesi, melansir berbagai sumber:
1. Anestesi lokal
Digunakan untuk prosedur kecil, seperti pengobatan gigi atau operasi katarak. Anestesi ini membuat bagian tubuh tertentu mati rasa, tapi pasien tetap sadar sepenuhnya.
2. Anestesi regional
Anestesi ini gunanya untuk memblokir rasa nyeri di sebagian besar tubuh, seperti bagian bawah pinggang.
Contohnya adalah anestesi spinal (biasa digunakan untuk operasi caesar) dan epidural (untuk persalinan atau operasi ortopedi). Pasien tetap sadar, tapi tidak merasakan nyeri di area tersebut.
3. Anestesi umum atau total
Anestesi ini membuat pasien benar-benar tidak sadar selama prosedur. Jenis ini dipakai untuk operasi besar seperti bedah jantung, otak, atau perut.
Pasien tidak hanya tak merasakan nyeri, tetapi juga tidak ingat apa pun selama proses berlangsung.
Sebelum prosedur anestesi dilakukan, dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi pasien.
Evaluasi ini mencakup riwayat medis, kemungkinan alergi, serta obat-obatan yang sedang dikonsumsi.
Pasien juga biasanya diminta untuk tidak makan atau minum beberapa jam sebelum tindakan medis dilakukan.
Saat prosedur berlangsung, anestesi diberikan melalui berbagai metode seperti suntikan, infus, atau inhalasi (melalui pernapasan).
Setelah itu, dokter anestesi akan memantau kondisi pasien secara intensif, termasuk tekanan darah, denyut jantung, suhu tubuh, dan pernapasan, untuk memastikan keamanan dan kestabilan selama tindakan dilakukan.
Walau umumnya aman, anestesi tetap bisa menimbulkan efek samping. Efek samping juga biasanya tergantung pada jenis anestesi yang diberikan.
Untuk anestesi lokal biasanya menimbulkan rasa nyeri di tempat suntikan, pusing, atau mati rasa berkepanjangan.
Untuk anestesi regional biasanya memicu nyeri punggung, sakit kepala, atau gangguan saraf.
Sementara untuk anestesi total bisa menyebabkan mual, muntah, suara serak karena selang napas, kebingungan saat bangun, atau dalam kasus langka, kesadaran parsial saat tubuh tidak bisa bergerak, seperti terjebak dalam mimpi buruk. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni