RADARTUBAN - Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkuat sektor pariwisata sebagai jawaban atas dampak kebijakan ekonomi global, terutama terkait tarif Trump.
Dalam menghadapi situasi yang berpotensi mengguncang perekonomian, fokus diarahkan kepada pengembangan domestic tourist dan pasar regional yang dinilai lebih stabil dan berdaya tahan.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengembangan domestic tourist menjadi strategi utama pemerintah untuk menjaga keberlanjutan sektor pariwisata nasional di tengah tantangan global.
Regional tourism juga menjadi pasar yang dianggap menjanjikan karena kedekatan geografis serta keterikatan budaya.
“Kita bisa mengkhususkan untuk mengembangkan domestic tourist. Kita fokusnya di domestic tourist dan di regional tourism. Kami percaya bahwa regional market tetap kuat, domestic market tetap kuat,” kata Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Martini M. Paham kepada awak media, Rabu (16/4).
Tarif Trump telah menimbulkan efek domino terhadap perekonomian global, termasuk potensi penurunan kunjungan wisatawan internasional.
Namun, optimisme tetap tumbuh karena pariwisata dipandang sebagai sektor yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, bahkan saat krisis melanda.
“Kita semua sangat concern bahwa tarif ini sangat mengguncang, banyak sekali negara terdampak. Namun kami semua, dari sisi pelaku pariwisata, dari sisi pemerintah, dari sisi UN Tourism, kami selalu percaya pariwisata adalah jawaban bagaimana kita menghadapi krisis terkait dengan kebijakan tarif ini,” ucapnya.
Optimisme ini menunjukkan sinergi antara pelaku industri dan pemerintah. Pariwisata tidak hanya menjadi alat pemulihan ekonomi, tetapi juga memperkuat kohesi sosial dan budaya, terutama melalui penguatan domestic tourist dan regional tourism.
“Kita semua sangat concern bahwa tarif ini sangat mengguncang, banyak sekali negara terdampak. Namun kami semua, dari sisi pelaku pariwisata, dari sisi pemerintah, dari sisi UN Tourism, kami selalu percaya pariwisata adalah jawaban bagaimana kita menghadapi krisis terkait dengan kebijakan tarif ini,” lanjutnya.
Dengan memperkuat domestic tourist, Indonesia tak hanya mengurangi ketergantungan terhadap pasar internasional, tetapi juga mendorong distribusi ekonomi yang lebih merata.
Langkah ini sejalan dengan upaya UN Tourism dalam mempromosikan keberlanjutan dan ketahanan pariwisata global.
Secara keseluruhan, strategi fokus pada domestic tourist, regional tourism, serta respons cepat terhadap tantangan global seperti tarif Trump menjadi arah kebijakan yang logis dan realistis.
Ini menjadi bukti bahwa sektor pariwisata tetap relevan dan strategis dalam berbagai situasi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni