RADARTUBAN - Di tengah kejayaan bisnis hiburan dan wisata, Taman Safari Indonesia (TSI) Group diwarnai tudingan eksploitasi dan penyiksaan terhadap para pemain sirkus yang tergabung dalam Oriental Circus Indonesia (OCI).
Keluarga Manansang, sosok penting di balik OCI dan TSI, ikut terseret dalam kasus usai kesaksian dua mantan pemain, Vivi dan Butet, mencuat ke ruang publik.
Melalui tayangan podcast Forum Keadilan TV, Vivi dan Butet mengungkapkan pengalaman mereka selama bertahun-tahun bekerja di lingkungan sirkus tersebut.
Mereka didampingi oleh pengacara Cak Sholeh, yang menyebut bahwa kekerasan dan pelanggaran hak asasi terhadap anak-anak sudah berlangsung sejak lama di OCI.
"Sudah sejak tahun 1997 laporan ini ada, bahkan Komnas HAM kala itu sudah mengeluarkan rekomendasi bahwa terjadi eksploitasi dan penyiksaan terhadap anak-anak di sirkus ini. Tapi sayangnya, rekomendasi itu hanya menjadi macan kertas," ujar Cak Sholeh, dikutip Sabtu (19/4).
Dia membeberkan, bentuk-bentuk kekerasan yang diterima para pemain bukan hanya fisik, tetapi juga psikis.
Dia menyebut lingkungan kerja yang tidak manusiawi itu masih terus dipertahankan sampai sekarang, tanpa ada upaya penyelesaian hukum yang serius.
Menanggapi tudingan tersebut, pihak OCI dan Taman Safari Indonesia akhirnya buka suara dan menggelar konferensi pers pada Kamis, 17 April 2025 lalu.
Toni Sumampouw, salah satu nama yang disebut-sebut dalam tuduhan, menyatakan bahwa pelatihan sirkus yang diberikan dilakukan dalam batas wajar dan tidak melibatkan kekerasan yang berlebihan.
“Kalau memang itu benar kejadiannya, kenapa baru sekarang dilaporkan? Tahun 1997 saja sudah pernah ada laporan,” tegas Toni.
Meski bantahan telah disampaikan, respons publik tak surut. Banyak yang mempertanyakan, mengapa laporan dugaan kekerasan terhadap anak ini tak kunjung ditangani tuntas meski sudah bergulir selama lebih dari dua dekade.
Sementara itu, sorotan juga mengarah pada kekuatan besar di balik bisnis keluarga Manansang yang mengelola jaringan wisata skala nasional tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, TSI Group mengelola setidaknya 11 destinasi wisata dan penginapan besar yang tersebar di berbagai daerah Indonesia.
Di antaranya termasuk destinasi utama seperti Taman Safari Bogor, Prigen, dan Bali, serta fasilitas hiburan modern seperti Jakarta Aquarium & Safari.
Berikut daftar lengkap tempat wisata yang dikelola oleh TSI Group:
1. Taman Safari Indonesia – Bogor, Jawa Barat
2. Taman Safari Indonesia – Prigen, Pasuruan, Jawa Timur
3. Taman Safari Indonesia – Gianyar, Bali
4. Jakarta Aquarium & Safari
5. Beach Safari – Batang, Jawa Tengah
6. Solo Safari – Surakarta, Jawa Tengah
7. Varuna Marine – Safari Bali
8. Royal Safari Garden – Cisarua, Bogor
9. Safari Resort – Kawasan TSI Bogor
10. Baobab Safari Resort – Prigen, Jatim
11. Mara River Safari Lodge – Bali
Nama-nama besar seperti Hadi Manansang, Jansen Manansang, Frans Manansang, dan Toni Sumampouw disebut sebagai sosok sentral dalam ekspansi TSI Group.
Dengan kekuasaan bisnis sebesar itu, banyak pihak mempertanyakan mengapa kasus yang telah dilaporkan sejak 1997, belum pernah benar-benar tersentuh oleh hukum secara serius.
Masyarakat kini menuntut proses hukum yang adil dan transparan atas tuduhan yang mengemuka. Sebab, isu ini tak hanya menyangkut reputasi bisnis hiburan nasional, tetapi juga menyentuh langsung pada nilai-nilai keadilan dan perlindungan anak. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama