Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Emas Jadi Andalan Investasi? CT Ungkap Kenapa Publik Mulai Pindah Haluan

Mohammad Mukarom • Senin, 21 April 2025 | 22:03 WIB
Investasi emas banyak digemari di kalangan masyarakat
Investasi emas banyak digemari di kalangan masyarakat

RADARTUBAN - Belakangan ini, pembelian emas di lapisan masyarakat terpantau meningkat.

Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tren ini juga melanda berbagai negara di dunia.

Chairul Tanjung, pengusaha nasional sekaligus Chairman CT Corp, menilai tren ini sebagai respons atas kondisi ekonomi global yang tidak stabil.

Menurutnya, emas kini dilihat sebagai aset aman yang lebih stabil dibandingkan dolar AS.

"Yang naik hanya emas, karena dia sebagai pengganti currency safe haven. Ketika dolar melemah, emas yang akan naik," kata CT dalam diskusi panel The Yudhoyono Institute di Jakarta, dikutip Senin (21/4).

Dijelaskan, penguatan harga emas berkorelasi dengan pelemahan berbagai instrumen ekonomi lain.

Dirinya menyebut emas kini mengambil peran sebagai pelindung nilai yang dipercaya oleh masyarakat global.

Dalam paparannya, CT juga mengungkapkan bahwa pelemahan ekonomi dunia sudah tampak dari penurunan harga berbagai komoditas utama.

Katanya, hal ini merupakan efek dari perang tarif yang mulai terasa dampaknya.

"Kalau ekonomi tumbuh melambat, permintaan pasti ikut turun. Dan ketika permintaan turun, harga komoditas kita, baik yang sifatnya hard maupun soft commodity, juga akan terpengaruh," jelasnya.

Ia mencontohkan harga minyak mentah yang mengalami penurunan cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Sementara itu, komoditas timah bahkan turun drastis hingga mencapai 17 persen.

Menurut CT, kondisi ini harus menjadi perhatian serius karena Indonesia masih sangat bergantung pada ekspor komoditas.

Turunnya harga membuat kinerja sektor industri dalam negeri ikut terdampak, termasuk terhadap penerimaan negara dari sektor tersebut.

Kinerja industri yang menurun kemudian berdampak pada arus investasi. Hal ini dapat memicu efisiensi radikal di perusahaan-perusahaan nasional dan pada akhirnya mengancam stabilitas ketenagakerjaan.

"Efisiensi besar-besaran ini akan berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja, yang bisa mengarah ke pemutusan hubungan kerja secara masif. Jika ini terjadi, daya beli masyarakat pasti akan ikut menurun," ujarnya.

CT pun mengingatkan pemerintah agar sigap dalam merespons dinamika ini.

Menurutnya, perlu ada reformasi ekonomi yang cepat dan menyeluruh untuk menghindari krisis berkepanjangan.

"Kalau kita tidak segera melakukan reformasi, maka kita akan masuk ke fase yang saya sebut circle down economy. Ekonomi masih bergerak, tapi arahnya menurun. Ini kondisi yang tidak kita harapkan," tutup CT. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#ekonomi global #pembelian emas #ketidakstabilan #harga emas