Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Perempuan Lebih Rentan Melakukan Pinjol, Benarkah Hal Tersebut? Berikut Penjelasanya

M Robit Bilhaq • Senin, 21 April 2025 | 23:05 WIB
Ilustrasi perempuan rentan terkena pinjol (Dok.Jawapos.com)
Ilustrasi perempuan rentan terkena pinjol (Dok.Jawapos.com)

RADARTUBAN - Penggunaan layanan pinjaman online akhir akhir ini menjadi trend dan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Hal ini disebabkan oleh berbagai penawaran penawaran yang ditawarkan dan mudahnya dalam mengakses pinjol.

Namun di balik hal tersebut, terdapat risiko kerugian besar, terutama bagi individu yang mengalami kesulitan melunasi pinjaman.

Mengutip data dari Kompas.com, kelompok perempuan tercatat sebagai yang paling banyak terjerat pinjaman online.

Jumlah pinjaman yang disalurkan kepada nasabah perempuan meningkat dari 52,3 persen menjadi 54,8 persen.

Hal ini menunjukkan dalam hal pengambilan pinjaman digital bahwa perempuan lebih rentan untuk melakukanya.

Dosen Psikologi dari Universitas Airlangga, Atika Dian Ariana, menyebutkan beberapa faktor psikologis yang membuat perempuan lebih rentan terhadap pinjol.

Menurutnya, jumlah perempuan di Indonesia memang lebih banyak dibanding laki-laki. Selain itu, aktivitas berbelanja secara daring juga lebih sering dilakukan oleh perempuan.

Atika menjelaskan bahwa perempuan memiliki kecenderungan lebih besar untuk memilih berbagai jenis barang saat berbelanja, berbeda dengan laki-laki yang biasanya langsung membeli barang secara langsung.

Ketika berbelanja secara offline, ada jeda waktu karena bisa jadi dana belum tersedia, sehingga pembelian ditunda.

Fenomena sosial seperti fear of missing out (FOMO) juga mendorong peningkatan pengeluaran. Banyak perempuan membeli barang karena ikut-ikutan tren.

Ketika melihat orang lain memakai produk tertentu, mereka terdorong untuk memilikinya juga.

Hal ini sering kali berujung pada pengeluaran yang tidak terkendali dan berujung pada penggunaan pinjaman online.

Iklan pinjol yang menyebar secara agresif turut memperkuat fenomena ini. Banyak perempuan yang menghabiskan waktunya untuk menjelajahi media sosial dan terpapar promosi pinjaman online dari para influencer.

Ketika seseorang melihat promosi semacam ini satu kali, kemungkinan besar mereka akan tertarik mencoba pinjol jika melihat iklan serupa di kesempatan lain.

Adapun dampak psikologis yang timbul dari penggunaan pinjaman online bisa sangat serius. Korban pinjol sering mengalami tekanan batin, stres berat, bahkan bisa berakibat depresi.

Apalagi jika mereka tidak memiliki penghasilan tetap, mereka bisa merasa dikucilkan oleh lingkungan sekitar karena dianggap tidak mampu mengelola keuanganya.

Atika menyarankan pentingnya membangun rasa tanggung jawab, memahami konsekuensi dari setiap keputusan, dan memperluas pola pikir dalam proses pemulihan.

Atika juga menegaskan bahwa meskipun tidak bisa menghapus beban pinjol, dukungan mental sangat dibutuhkan agar korban tidak kecanduan dan tetap memiliki kesadaran dalam bertindak.

Lingkungan sosial juga memiliki peran penting dalam proses ini. Sering kali tekanan sosial, seperti komentar terhadap gaya hidup, memicu seseorang untuk membeli barang yang tidak benar-benar dibutuhkan.

Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental dan kebahagiaan pribadi jauh lebih penting daripada memenuhi ekspektasi orang lain.

Menurut Atika, penting untuk membentuk kebiasaan hidup sehat dengan cara berhenti membandingkan diri dengan orang lain, baik secara langsung maupun melalui media sosial. 

Dia juga menyarankan untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri hanya jika memang pantas, tanpa memaksakan keadaan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Tekanan sosial #pinjol #psikologis #perempuan #pinjaman online #rentan