Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Nama Depok Ternyata Singkatan Komunitas Kristen yang Didirikan Pegawai VOC, Siapa Dia?

Nadia Nafifin • Selasa, 22 April 2025 | 21:12 WIB
Asal-usul Nama Depok
Asal-usul Nama Depok

RADARTUBAN - Sebagai orang Indonesia, pasti sudah tidak asing dengan Kota Depok. Namun, tahukah Anda bahwa nama Depok'sebenarnya berasal dari singkatan dalam Bahasa Belanda?

Nama Depok diberikan oleh seorang pria berkewarganegaraan Belanda yang bekerja sebagai pegawai VOC. Lalu, bagaimana kisah awal pemberian nama ini?

Catatan sejarah menyebutkan bahwa wilayah yang sekarang dikenal sebagai Depok dulunya merupakan bagian dari Residensi Ommelanden van Batavia atau Keresidenan Daerah sekitar Jakarta, berdasarkan Keputusan Gubernur Batavia tertanggal 11 April 1949.

Nama Depok berasal dari singkatan bahasa Belanda, yaitu "De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen", yang dalam bahasa Indonesia berarti "Organisasi Kristen Protestan Pertama".

Hubungan Depok dengan sejarah Kristen Protestan tidak terlepas dari peran penting Cornelis Chastelein.

Chastelein adalah seorang pegawai VOC yang mengabdi selama 20 tahun. Ia memulai karir di perusahaan dagang tersebut pada usia 20-an.

Dari awalnya hanya sebagai pengawas gudang, karirnya berkembang pesat hingga ia dipercaya menjadi saudagar utama dan anggota Dewan Kota Batavia.

Selama kariernya, pria kelahiran 1658 ini menerima gaji bulanan sekitar 200-350 gulden, jumlah yang cukup besar pada masa itu, yang membuatnya dikenal sebagai salah satu orang yang pandai dalam mengelola keuangan.

Alih-alih menghamburkan uangnya, ia memilih untuk menginvestasikan gajinya dengan membeli tanah di sekitar Batavia.

Dalam Depok Tempo Doeloe (2011), dijelaskan bahwa tanah pertama yang dibelinya pada tahun 1693 terletak di kawasan Weltevreden, yang kini dikenal sebagai Gambir. Tanah tersebut kemudian digunakan untuk menanam tebu.

Dua tahun setelah pensiun dari VOC, Chastelein memutuskan untuk membeli tanah lagi di Serengseng, yang sekarang dikenal sebagai Lenteng Agung.

Di atas lahan baru ini, ia menghabiskan masa pensiunnya dan menjalani kehidupan sebagai tuan tanah. Di sana, ia membangun sebuah rumah besar dan mengundang banyak orang, bukan hanya keluarga, untuk tinggal bersama.

"Ketika pindah ke Seringsing, Chastelein bukan hanya membawa keluarganya melainkan juga budak-budaknya," tulis Tri Wahyuning M. Irsyam dalam Berkembang dalam bayang-bayang Jakarta: Sejarah Depok 1950-1990-an (2017:41), sebagaimana dilansir dari CNBC.

Chastelein membawa sekitar 150 budak, sebagian besar berasal dari luar Jawa, dan beberapa di antaranya memeluk agama Kristen.

Berbeda dari kebanyakan orang pada masa itu, Chastelein sangat menghargai budak-budaknya.

Sebagai seorang Kristen yang taat, ia sangat paham mengenai hak asasi manusia dan memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk membebaskan semua budaknya.

Setelah dibebaskan, para bekas budak yang kini menjadi anak buahnya, diberi tugas untuk mengelola rumah besar di Serengseng dan mengurus perkebunan yang baru saja dia beli di kawasan Mampang dan Depok.

Tanaman yang dibudidayakan di lahan tersebut menghasilkan produk bernilai tinggi, seperti tebu, lada, pala, dan kopi.

Kesuksesan ini membuat Chastelein semakin kaya raya dan menjadi salah satu orang terkaya di Batavia (sekarang Jakarta). Ia meninggal pada 28 Juni 1714, dan setelah kematiannya, tidak ada perdebatan mengenai kemana perginya harta dan tanah miliknya.

Tiga bulan sebelum meninggal pada 28 Juni 1714, tepatnya pada 13 Maret 1714, Chastelein menulis surat wasiat. 

Dia menuliskan bahhwa seluruh hartanya tidak hanya diwariskan kepada keluarga, tetapi juga dibagikan secara cuma-cuma kepada bekas budak yang telah dimerdekakan.

Tujuan utamanya adalah agar mereka dapat hidup mandiri dan sejahtera.

Selain itu, Chastelein juga ingin tanah yang dimilikinya digunakan untuk menyebarkan agama Kristen di Batavia.

Amanah tersebut kemudian menginspirasi bekas budak Chastelein untuk mendirikan sebuah komunitas yang dinamakan De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen, yang berarti Organisasi Kristen Protestan Pertama.

Tanah yang menjadi tempat berdirinya komunitas ini akhirnya dikenal dengan nama Depok, yang merupakan singkatan dari nama komunitas tersebut. Para anggota atau keturunan komunitas ini kemudian dikenal sebagai 'Belanda Depok'.

Seiring berjalannya waktu, nama Depok tetap digunakan untuk wilayah tersebut hingga era modern.

Namun, seiring perkembangan zaman, bermunculan berbagai interpretasi mengenai asal-usul nama Depok, salah satunya adalah "Daerah Permukiman Orang Kota." (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#cornelis chastelein #VOC #Komunitas Kristen #belanda #depok #Indonesia