Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ratusan Santri Tersesat dan Belasan Nyawa Melayang di Gunung Lawu, Mengingat Kembali Tragedi 1987

Mohammad Mukarom • Kamis, 24 April 2025 | 17:01 WIB
Gunung Lawu yang menyimpan banyak misteri dan cerita tragedi.
Gunung Lawu yang menyimpan banyak misteri dan cerita tragedi.

RADARTUBAN - Kembali 38 tahun silam, peristiwa memilukan menimpa ratusan santri Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo, yang sedang pergi muncak ke Gunung Lawu.

Insiden terjadi pada Desember 1987, yang mana terdapat sebanyak 15 orang meninggal dunia akibat tersesat dan terjebak cuaca ekstrem selama kegiatan berlangsung.

Salah satu saksi hidup, Slamet Jafar, mengungkapkan kisah kelam tersebut yang nyaris tak diketahui publik secara luas.

Dia adalah bagian dari kelompok II yang sempat tidak kembali ke perkemahan pada waktu yang telah ditentukan.

Jafar, santri asal Pemalang, menceritakan bahwa kelompoknya kehilangan arah hingga harus bermalam di hutan dengan perlengkapan seadanya.

Malam itu diguyur hujan deras, namun mereka beruntung menemukan ceruk seperti goa untuk berteduh.

Dikisahkan, saat kejadian itu, dirinya baru beberapa bulan menjadi siswa kelas 1 SMA di Al-Mukmin.

Berbekal pengetahuan keperawatan, dia berusaha membantu teman-temannya yang mengalami gangguan kesehatan di tengah ekstremnya kondisi alam.

Beberapa dari mereka mengalami kram, kejang ringan, hingga menggigil karena udara dingin yang menusuk tubuh.

Situasi darurat memaksa Jafar bertindak cepat agar tak ada korban dari kelompoknya saat itu.

Pagi harinya, 16 Desember 1987, mereka memutuskan untuk mencari jalan pulang dengan menyusuri aliran pipa air.

Upaya tersebut berhasil membawa mereka kembali ke area perkemahan sekitar pukul 10.00 WIB.

Namun setibanya di perkemahan, Jafar kembali naik ke gunung bersama sejumlah santri lain untuk mencari kelompok III yang belum juga terlihat.

Di kawasan Ceret, mereka menemukan para anggota kelompok III dalam kondisi memprihatinkan.

Beberapa di antaranya ditemukan tergeletak di tengah dataran berhutan, dikelilingi pepohonan tinggi.

Hanya tiga orang dari kelompok tersebut yang masih hidup, namun satu di antaranya tak mampu lagi berbicara.

Demi menyelamatkan dua korban yang masih bisa diajak komunikasi, Jafar menggeser posisi mereka agar tak berada di dekat jenazah kawan-kawannya.

Dia menyebut hal itu penting untuk menjaga kondisi mental para penyintas.

Setelah berhari-hari mencari, akhirnya upayanya didukung oleh tim SAR, TNI, dan Polri yang mengevakuasi seluruh korban ke rumah sakit terdekat.

Hingga Sabtu, 19 Desember 1987, tercatat ada 15 santri dinyatakan tewas.

Sembilan jenazah dimakamkan di kompleks makam dekat pondok pesantren, sedangkan enam lainnya dibawa pulang keluarga ke daerah asalnya.

Di antara korban yang dimakamkan di luar Ngruki terdapat Amin Jabir dari Lamongan, kerabat dari Amrozi, Muklas, dan Ali Imron yang kelak dikenal publik terkait Bom Bali I.

Dua korban terakhir ditemukan secara tak terduga oleh seorang pencari jamur, yaitu Abdul Wahab dan Ahmad Khumaidi yang merupakan ustaz pembimbing kelompok III.

Mereka bertahan lebih lama setelah terpisah dari rombongan dan terus berupaya mencari jalan keluar meski tanpa bekal.

Karena terus-menerus kehujanan dan kelaparan, kondisi mereka semakin melemah hingga pada malam 20 Desember 1987, Abdul Wahab jatuh dari ketinggian lima meter.

Khumaidi hanya mendengar suara sahabatnya menyebut asma Allah berulang kali sebelum akhirnya diam.

Khumaidi yang sudah kehabisan tenaga tak mampu mendekati rekannya dan hanya bisa bertahan dalam kondisi menggigil di tempatnya. Esok harinya, 21 Desember 1987, ia ditemukan oleh pencari jamur yang melintas di kawasan Blumbang.

Kondisinya sangat lemah, tetapi beruntung masih bisa diselamatkan dan langsung dievakuasi bersama jenazah Abdul Wahab. Jalur mereka ternyata lebih dekat ke Cemoro Sewu, berbeda dari arah kelompok lainnya.

Kini, makam sembilan santri yang berada di sekitar Ponpes Al-Mukmin sudah tidak lagi terlihat karena tertutup oleh makam-makam baru. Kenangan akan tragedi ini pun nyaris terlupakan oleh publik, meski menyimpan pelajaran penting soal keselamatan dalam kegiatan alam terbuka. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#lamongan #Nyawa #tragedi #santri #saksi hidup #keluarga #Gunung Lawu