RADARTUBAN— Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia kembali mengalami lonjakan.
Hingga 13 April 2025, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatat sebanyak 38.740 kasus DBD terjadi di berbagai daerah, dengan angka kematian mencapai 182 jiwa.
Meski jumlah tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu, Kemenkes menegaskan bahwa situasi ini tetap berisiko tinggi, terutama menjelang musim kemarau.
"Musim kemarau kerap memperburuk penyebaran nyamuk Aedes aegypti, sehingga masyarakat harus tetap waspada," himbau Kemenkes, Minggu (27/4).
Kemenkes mengingatkan bahwa kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk harus segera diantisipasi.
Baca Juga: Gegara Obat Nyamuk, Dua Rumah di Bangilan Tuban Ludes Terbakar
Genangan air, wadah-wadah terbuka, dan minimnya kesadaran menjaga kebersihan menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran DBD.
Masyarakat diimbau rutin menguras tempat penampungan air, menutup rapat-rapat bak mandi dan wadah air, hingga menggunakan kelambu atau obat nyamuk, terutama saat tidur.
"Pencegahan adalah kunci utama. Selain menjaga lingkungan, masyarakat juga disarankan segera memeriksakan diri jika mengalami gejala DBD seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot, dan ruam kulit," lanjut pernyataan tersebut.
Baca Juga: Banyak Nyamuk Mengganggu? Lakukan Cara Ini Agar Terhindar Dari Gigitan Nyamuk!
Selain mengandalkan partisipasi masyarakat, Kemenkes juga meminta pemerintah daerah untuk aktif melakukan pengasapan (fogging) di wilayah-wilayah yang terindikasi rawan penyebaran DBD.
Langkah ini diharapkan dapat memutus rantai penyebaran virus lebih dini sebelum jumlah kasus bertambah signifikan.
Dengan kasus yang sudah mencapai puluhan ribu, Kemenkes menegaskan pentingnya kerja sama seluruh lapisan masyarakat untuk menekan angka infeksi DBD di Indonesia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni