RADARTUBAN - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyatakan bahwa program makan bergizi gratis (MBG) tetap dalam proses evaluasi meskipun insiden keracunan terkait MBG terus muncul di berbagai wilayah.
Dadan menjelaskan bahwa penilaian terhadap program unggulan pemerintah berlangsung dengan baik, dan data menunjukkan kejadian keracunan berada pada tingkat 0,5 persen.
Dia menargetkan agar angka tersebut dapat dikurangi menjadi nol melalui evaluasi yang dilakukan oleh BGN, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dapur MBG, dan pihak-pihak terkait lainnya.
Selain evaluasi, BGN juga berupaya mengurangi kejadian keracunan dengan meningkatkan pelatihan serta penyegaran bagi para penyaji makanan.
Insiden keracunan yang dialami siswa setelah mengonsumsi MBG terjadi di banyak lokasi sepanjang tahun 2025, termasuk di MAN 1 dan SMP PGRI 1 Cianjur, SDN 33 Bombana, SDN Proyonanggan 5 Batang, SD Katolik Andaluri, Waingapu, SDN 2 Alaswangi, Pandeglang hingga SDN 3 Dukuh, Sukoharjo.
Lebih jauh lagi, kejadian keracunan MBG di Cianjur, Jawa Barat, telah dinyatakan sebagai kasus luar biasa (KLB) karena 78 siswa dari dua sekolah menunjukkan gejala keracunan makanan.
Dadan menjelaskan bahwa kejadian keracunan massal di Cianjur disebabkan oleh penggunaan food tray MBG yang masih terbuat dari plastik.
“Pertama, food tray-nya harus segera diganti, karena sebagian besar food tray itu masih menggunakan bahan plastik, ” ungkap Dadan saat ditemui di Asrama Haji Jakarta, Jakarta Timur, pada Kamis (24/4).
“ Karena food tray-nya dari plastik , kami meminta agar segera dilakukan penempatannya , ” tambahnya .
Selain masalah tempat penyajian , Dadan jugameminta kepada kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cianjur untuk memisahkan jalur proses masuk dan keluar barang.
“ Kedua, kami akan memutar SOP terkait proses antara barang masuk dan barang keluar, dan kami meminta agar alurnya berbeda, ” jelas Dadan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni