Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kereta Tanpa Rel Gagal Beroperasi Secara Mandiri di IKN, Ini 3 Faktor Penyebabnya

Bihan Mokodompit • Kamis, 1 Mei 2025 | 23:35 WIB
Kereta tanpa rel IKN gagal beroperasi
Kereta tanpa rel IKN gagal beroperasi

RADARTUBAN - Ibu Kota Nusantara (IKN) diciptakan sebagai kota canggih dengan sistem transportasi yang modern dan berbasis teknologi terkini.

Salah satu inisiatif yang diusulkan adalah menghadirkan Autonomous Rail Transit (ART), yaitu kereta tanpa rel yang diproduksi oleh firma China, CRRC Qingdao Sifang.

Namun, setelah fase uji coba atau Proof of Concept (PoC) yang dilakukan antara Agustus hingga Oktober 2024, ART tersebut dinyatakan tidak berhasil beroperasi secara mandiri dan dikembalikan ke China pada Selasa, (29/4).

Apa yang menyebabkan kegagalan ini? Apakah ini menandakan berakhirnya impian transportasi pintar di IKN? Berikut adalah fakta-fakta penting terkait isu ini:

ART, yang merupakan hasil kerja sama antara Otorita IKN, Norinco, dan CRRC, diharapkan dapat menjadi simbol transportasi umum yang berwawasan lingkungan di IKN.

Kereta ini memiliki kapasitas maksimum hingga 302 penumpang untuk setiap rangkaian tiga gerbong.

Tujuan dari PoC yang akan berlangsung hingga tanggal 22 Oktober 2024 adalah untuk menilai keandalan teknologi otonom, keselamatan, serta performa baterai.

Namun, hasil yang diperoleh jauh dari harapan, berujung pada keputusan untuk mengembalikannya ke China.

Tiga Alasan Utama Kegagalan ART Otonom di IKN Berdasarkan penilaian independen yang dilakukan oleh ahli transportasi dari universitas ternama seperti UI dan ITB, serta organisasi profesional.

Berikut adalah tiga poin penting yang menjelaskan mengapa kereta tanpa rel tersebut tidak memenuhi standar IKN:

1. Sistem Otonom Tidak Berfungsi mengindikasikan kurangnya keandalan.

Ketidaktersediaan kontrol rute yang dapat diprogram untuk kecepatan dan pengereman menyebabkan ART tidak mampu menyesuaikan dengan situasi lalu lintas campuran di IKN.

2. Pengereman Otonom Tidak Responsif

Salah satu masalah utama adalah ketidakmampuan sistem pengereman otonom dalam mendeteksi halangan atau objek yang menghalangi.

ART tidak dapat memperlambat secara otomatis, mengerem, atau memberikan peringatan, sehingga meningkatkan risiko keselamatan.

Ini bertentangan dengan standar keamanan tinggi yang dibutuhkan untuk transportasi publik di IKN.

3. Keterbatasan Kemampuan Bidireksional

Sistem kontrol otonom ART tidak mendukung operasi dua arah, yang penting untuk memberikan kelincahan rute di IKN.

Selain itu, teknologi ini masih berada dalam tahap prototipe dan belum sepenuhnya teruji di lingkungan operasional yang kompleks seperti di China, tempat ART telah beroperasi sejak tahun 2017.

Di samping kekurangan teknis, ada beberapa faktor luar yang juga mempengaruhi hasil PoC:

1. Kondisi Mixed Traffic: Uji coba dilakukan di jalur yang digunakan bersama kendaraan lain, di mana IKN masih dalam proses pembangunan.

Ini menambah tantangan bagi sistem otonom yang belum sepenuhnya matang.

2. Ekspektasi Tinggi IKN: Sebagai laboratorium hidup untuk inovasi, IKN menetapkan standar ketat untuk teknologi transportasi, termasuk interoperabilitas, nilai ekonomi, dan transfer teknologi.

3. Kurangnya Penyempurnaan Pra-Uji: Ketiadaan pembaruan sistem komunikasi yang sesuai dengan standar keamanan siber atau peningkatan fitur keselamatan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#ibu kota nusantara #IKN #China #kereta tanpa rel #sistem otonom