RADARTUBAN - Penggunaan antibiotik secara bebas tanpa anjuran medis masih marak terjadi di Indonesia.
Berdasarkan data pemantauan dari tahun 2021 hingga 2024, hampir 80 persen masyarakat tercatat menggunakan antibiotik tanpa resep dokter.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), Prof. Taruna Ikrar, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kebiasaan ini yang dinilainya sangat berisiko.
Pasalnya dapat memicu silent pandemic atau pandemi tersembunyi sebuah kondisi krisis kesehatan global yang berkembang perlahan, tidak langsung terlihat, namun sangat mengancam.
Silent pandemic merujuk pada penyebaran penyakit atau krisis kesehatan yang tidak tampak secara kasat mata seperti halnya COVID-19.
Namun menyebar secara perlahan dan berpotensi menimbulkan kerugian besar.
Masalah resistensi antibiotik menjadi salah satu penyebab utama munculnya ancaman ini.
Dalam kunjungan ke Puskesmas Cakung, Jakarta Timur pada Jumat (2/5), Prof. Taruna menjelaskan bahwa mayoritas warga mengonsumsi antibiotik tanpa pengawasan medis.
Menurutnya, fenomena ini merupakan pelanggaran prosedur dan bisa menyebabkan resistensi antimikroba secara luas.
Bila dibiarkan, hal ini dikhawatirkan akan memicu bencana kesehatan yang lebih besar.
Lebih lanjut, dia memaparkan bahwa resistensi antibiotik berdampak serius pada efektivitas pengobatan.
Salah satu contohnya adalah bakteri Escherichia coli (E. coli) yang kini telah kebal terhadap 45 persen jenis antibiotik yang tersedia di Indonesia.
"E. coli merupakan bakteri umum di lingkungan kita. Ketika antibiotik tak lagi mampu membunuhnya, maka pasien berisiko mengalami komplikasi serius, bahkan meninggal karena infeksi ringan yang seharusnya mudah diatasi," jelasnya.
Prof Taruna menambahkan, pasien yang mengalami infeksi semacam itu mungkin tak kunjung sembuh meski telah mendapatkan antibiotik.
Sehingga bisa berujung pada kematian akibat penyakit yang sebenarnya tidak tergolong berat.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya mencegah meluasnya resistensi antibiotik agar tidak bertransformasi menjadi silent pandemic.
"Seperti ini dikasih antibiotik tidak sembuh-sembuh. Jadi dia bisa meninggal hanya karena sebetulnya penyakit biasa," ujar Taruna.
Di sisi lain, Lord Ara Darzi, seorang pakar bedah dan tokoh kesehatan dunia, juga mengangkat isu yang sama.
Dia menyebut bahwa resistensi terhadap antibiotik merupakan ancaman global yang tak kalah berbahaya dari COVID-19.
Menurutnya, lebih dari satu juta orang di Inggris meninggal setiap tahunnya akibat infeksi yang tak lagi dapat ditangani karena munculnya superbug, bakteri yang kebal terhadap berbagai obat.
Darzi memperkirakan bahwa pada 2028, jumlah orang yang meninggal akibat infeksi yang kebal terhadap antibiotik akan setara dengan angka kematian akibat infeksi pada tahun 1928, yakni sebelum penisilin ditemukan.
Dia menambahkan bahwa bakteri sudah ada sejak tiga miliar tahun yang lalu, jauh lebih dulu dari manusia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni