RADAR TUBAN – Hampir setiap hari kita selalu mendengar keluhan dan isu seputar krisis figur ayah. Apa itu krisis figur ayah sebenarnya?
Fenomena ini sering kali terjadi di Indonesia.
Krisis figur ayah adalah kondisi ketika peran ayah dalam keluarga, khususnya dalam pengasuhan dan keterlibatan emosional dengan anak—menjadi minim.
Tidak hadir secara aktif atau bahkan sama sekali tidak terasa oleh anak.
Ini bukan berarti ayah tidak ada secara fisik, tapi lebih kepada ketidakhadiran dalam hal bonding, perhatian, dan bimbingan dalam kehidupan sehari-hari anak.
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Wihaji, menyoroti krisis figur ayah di tengah keluarga Indonesia.
Baca Juga: Melihat Anak Hampir Digulung Ombak, Sang Ayah Rela Korbankan Nyawa di Laut Jember
Menurut pejabat yang juga sekaligus Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) itu, banyak anak tumbuh tanpa kehadiran ayah yang aktif dalam kehidupan sehari-hari.
“Ayah hanya hadir saat membayar SPP, uang saku, atau biaya kos. Di luar itu, tidak ada,” kata Wihaji saat menjadi narasumber dalam program detikSore di Jakarta Pusat, Senin (5/5).
Minimnya keterlibatan ayah, lanjut Wihaji, bisa berdampak serius terhadap tumbuh kembang anak, terutama dalam pembentukan karakter dan kesehatan mental.
Dia menyebut kondisi ini bisa melahirkan generasi yang rentan, tidak tahan banting, dan lemah dalam kepemimpinan.
“Salah satu dampaknya terhadap karakter anak. Kalau tidak kita waspadai, mereka bisa tumbuh menjadi generasi strawberry—terlihat menarik dari luar, tapi rapuh di dalam. Ini juga berdampak pada kualitas kepemimpinan mereka di masa depan,” ujar mantan Bupati Batang itu.
Wihaji juga menyinggung perubahan pola asuh di era digital.
Dia menyebut anak-anak kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dan media sosial, yang tidak selalu menyajikan konten positif.
“Banyak anak sekarang lebih percaya pada apa yang mereka lihat di ponsel daripada nasihat orang tuanya. Mereka tergolong generasi handphone, generasi media sosial. Pola pikir mereka terbentuk dari sana,” jelasnya.
Melihat tren ini, Wihaji mendorong para ayah untuk lebih terlibat secara emosional dan fisik dalam kehidupan anak-anak, meski hanya dengan waktu yang terbatas.
“Perbedaan zaman menuntut penyesuaian. Minimal, saat makan bersama hindari bermain ponsel. Ajak anak ngobrol, entah itu pagi atau malam. Meski hanya 30 menit, itu jauh lebih berarti,” pesannya.
Ia mengingatkan bahwa mencari nafkah memang penting, tapi tidak boleh mengabaikan masa depan anak.
“Kalau hanya fokus pada pekerjaan, akan selalu terasa kurang. Padahal, setiap orang tua pasti ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan bahagia,” tutupnya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama