Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mengapa Lulusan Sarjana Sulit Mendapatkan Pekerjaan di Indonesia? Ini Penyebab Utamanya

M Robit Bilhaq • Kamis, 15 Mei 2025 | 16:10 WIB
Ilustrasi lulusan sarjana yang mencari lowongan pekerjaan.
Ilustrasi lulusan sarjana yang mencari lowongan pekerjaan.

RADARTUBAN - Setiap tahun, mahasiswa yang jumlahnya ribuan lulus dari perguruan tinggi yang ada di Indonesia dengan harapan bisa segera mendapatkan pekerjaan yang sesuai.

Namun, pada kenyataan di lapangan tidak selalu seindah dengan harapan.

Dalam kondisi ekonomi yang penuh tantangan seperti saat ini, termasuk meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) dan banyaknya perusahaan yang tutup, lulusan sarjana kini harus bersaing dengan ketat terlebih dahulu untuk mendapatkan pekerjaan.

Billy, lulusan ITB tahun 2024 dari jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, adalah salah satu contohnya.

Billy sempat bekerja sebagai freelancer, namun kemudian memutuskan untuk mencari pekerjaan tetap.

Meski sudah mencoba melamar melalui berbagai platform seperti LinkedIn dan Jobstreet, Billy masih belum berhasil juga untuk memperoleh pekerjaan formal yang diinginkannya.

Hal yang serupa juga dialami oleh Pranuju, lulusan S1 dari Universitas Bangka Belitung.

Pranuju mengatakan bahwa tantangan yang utama dalam mencari pekerjaan adalah terbatasnya jumlah lowongan yang tersedia dibandingkan dengan tingginya jumlah pelamar.

Selain itu, banyak perusahaan menetapkan persyaratan yang cukup sulit dipenuhi, sehingga semakin memperkecil peluang bagi pencari kerja.

Di sisi lain, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, mengatakan bahwa sebenarnya Indonesia membuka banyak lapangan pekerjaan, bahkan hampir mencapai tiga juta di tahun ini.

Namun, jumlah pencari kerja yang masuk ke pasar kerja mencapai empat juta orang, sehingga ketimpangan tetap terjadi antara lowongan dan pencari kerja.

Belum lagi jika ditambah dengan para pekerja yang terkena PHK, yang tentunya juga ikut bersaing dengan lulusan baru.

Menurut Bob, pemerintah seharusnya tidak hanya perlu fokus pada permasalahan PHK, tetapi juga harus aktif untuk terus menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Bob mencontohkan pendekatan negara lain seperti Singapura yang telah mempersiapkan tenaga kerjanya jauh-jauh hari sebelum melakukan PHK melalui pelatihan keterampilan.

Selain itu, Kepala Badan Pengembangan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan, Anwar Sanusi menyebutkan bahwa pengangguran di Indonesia saat ini jumlahnya sudah mencapai sekitar 7 juta orang.

Dengan bertambahnya angkatan kerja setiap tahun, pemerintah telah mengambil langkah untuk menjembatani antara pencari kerja dan perusahaan yang membutuhkan melalui pembentukan pusat pasar kerja.

Pemerintah juga menargetkan untuk menyelenggarakan satu juta pelatihan sebagai bagian dari persiapan tenaga kerja agar lebih siap masuk ke dunia kerja. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Perguruan Tinggi #lowongan pekerjaan #lulusan sarjana #pekerjaan #Indonesia #phk