RADARTUBAN - Musim haji tahun ini menyisakan tantangan baru, terutama terkait dengan barang tertinggal jemaah haji.
Penerapan layanan fast track oleh pemerintah memang mempercepat proses pergerakan jemaah.
Namun di sisi lain juga menimbulkan potensi meningkatnya barang bawaan yang tertinggal atau tersasar, baik di bandara maupun di area sekitar Masjid Nabawi.
Kursi Roda hingga Ponsel Jadi Barang yang Paling Sering Tertinggal
Menurut laporan dari Seksi Perlindungan Jemaah (Linjam) Daerah Kerja (Daker) Madinah, barang tertinggal jemaah haji yang paling sering ditemukan adalah kursi roda, diikuti oleh tas koper dan ponsel.
Hal ini disampaikan langsung oleh Kasie Linjam Daker Madinah, M. Slamet, yang menyebutkan bahwa barang-barang tersebut sering kali tertinggal karena proses pergerakan yang cepat dari bandara ke pemondokan.
“Kita koordinasi dengan linjam di bandara, dikirim ke Daker Madinah, kemudian kita data, kita lihat ini dari embarkasi mana. Setelah kita data, kita sampaikan ke linjam sektor untuk mengambil barang-barang ini di Daker Madinah,” ujar Slamet kepada Media Center Haji 2025 di Madinah, Senin, 12 Mei 2025.
WA Group Khusus hingga Petugas Sektor Nabawi
Untuk memastikan barang kembali ke pemiliknya, PPIH membentuk grup WhatsApp khusus yang mendata seluruh barang tertinggal jemaah haji di Daker Madinah.
Petugas linjam sektor kemudian mengambil barang-barang tersebut dan mengembalikannya ke jemaah.
“Alhamdulillah setiap harinya kita menerima barang-barang dari bandara. Itu setiap hari terambil selama ini, lancar,” imbuhnya.
Petugas linjam juga ditempatkan khusus di sektor Nabawi. Area ini memang rawan menjadi tempat tercecernya barang karena aktivitas ibadah yang padat.
“Kalau ada laporan, kita koordinasi ke linjam sana agar mencari, menyisir. Mudah-mudahan apa yang dilaporkan jemaah bisa kita temukan,” ungkap Slamet.
Imbauan untuk Waspada dan Laporkan Kehilangan
Agar kejadian serupa bisa ditekan, Slamet mengimbau para jemaah untuk memberi tanda identitas pada setiap barang bawaan dan tidak membawa barang berharga secara berlebihan.
“Misalnya membawa uang Rp 40 juta. Itu rawan, riskan karena kita di negara orang. Kita tidak tahu posisi di sini apa, beda dengan Indonesia,” sambungnya.
Selain itu, Slamet juga meminta agar jemaah segera melaporkan kehilangan kepada ketua rombongan atau ketua kloter, agar proses pencarian bisa dilakukan lebih cepat dan akurat.
“Silakan laporkan ya biar barang itu segera kita temukan,” ucapnya.
Barang yang Tak Diambil Bisa Diwakafkan
Jika hingga musim haji berakhir ada barang tertinggal jemaah haji yang belum diambil, PPIH telah menyiapkan opsi menyimpannya untuk beberapa waktu atau mewakafkannya kepada yang membutuhkan.
“Barang itu adalah masih menjadi tanggung jawab kami. Kalaupun itu terpaksa kami bawa ke Indonesia, kami bawa. Siapa tahu nanti di Indonesia ada jemaah kita yang merasa kehilangan, nanti akan kita serahkan di sana,” tutup Slamet.
Fenomena barang tertinggal jemaah haji menjadi perhatian serius pemerintah di musim haji 2025.
Melalui koordinasi lintas sektor, pembuatan sistem pendataan, dan penempatan petugas linjam, diharapkan setiap barang bisa kembali kepada pemiliknya.
Edukasi kepada jemaah tentang menjaga barang pribadi juga menjadi langkah preventif yang penting. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama