Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tips Meningkatkan Minat Baca, Belajar dari Bung Hatta: Menjadikan Buku sebagai Jendela Dunia

Nadia Nafifin • Senin, 19 Mei 2025 | 16:23 WIB
Tips Meningkatkan Minat Baca Ala Bung Hatta
Tips Meningkatkan Minat Baca Ala Bung Hatta

RADARTUBAN - Indonesia memperingati Hari Buku Nasional setiap tanggal 17 Mei. Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan hari berdirinya Perpustakaan Nasional pada 17 Mei 1980.

Menurut informasi dari laman Ditjen SMP Kemendikdasmen, Hari Buku Nasional pertama kali digagas oleh mantan Menteri Pendidikan Abdul Malik Fadjar pada tahun 2002.

Peringatan ini bertujuan untuk mendorong minat baca dan meningkatkan budaya literasi di tengah masyarakat.

Khususnya di kalangan pelajar dan remaja, yang merupakan masa penting dalam perkembangan imajinasi dan pengetahuan anak.

Literasi memiliki peranan krusial dalam membentuk pola pikir kritis, menumbuhkan empati, serta memperluas wawasan terhadap dunia.

Salah satu tokoh nasional yang dikenal dengan kegemarannya membaca adalah Presiden pertama RI, Drs. Moh. Hatta, atau yang akrab disapa Bung Hatta, yang bahkan mendapat julukan kutu buku.

Dari kecintaan Bung Hatta terhadap buku, ada tiga kiat berharga yang relevan untuk diterapkan oleh generasi saat ini. Yuk, simak penjelasannya!

Sejarawan Bonnie Triyana mengungkapkan bahwa minat Bung Hatta terhadap buku sudah tumbuh sejak masa mudanya di Padang, Sumatera Barat.

Terlahir dari keluarga kelas menengah pada masa itu, Hatta memiliki akses terhadap pendidikan yang berkualitas.

Menurut keterangan dari Museum Kepresidenan, pendidikan Bung Hatta dimulai di sekolah swasta dan sekolah rakyat di Bukittinggi.

Namun, setelah tiga tahun, ia dipindahkan ke Europese Lagere School (ELS), sekolah untuk warga kulit putih, juga di Bukittinggi.

Tidak lama kemudian, Hatta melanjutkan pendidikan di ELS Padang hingga lulus pada tahun 1916.

Setelah itu, ia meneruskan studi ke jenjang Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang.

Lulus MULO pada tahun 1919, Hatta melanjutkan pendidikan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia.

Saat menimba ilmu di sana, ia gemar membaca buku-buku berat yang kerap dibelinya dari toko loak di kawasan Harmoni, sebagaimana tercatat pada laman detik.

Bung Hatta dikenal begitu mencintai buku hingga rela menyisihkan uang jajannya—yang diberikan pamannya, Ayub Rais setiap bulan—demi membeli buku sejak masa sekolah.

Uang saku itu tak digunakan untuk bersenang-senang, melainkan diinvestasikan untuk memperluas wawasan melalui bacaan.

Kebiasaan membaca dan mengoleksi buku terus dilakukannya hingga akhir hayat. Tidak heran jika Bung Hatta memiliki sekitar 10.000 judul buku dalam koleksinya.

Bagi Bung Hatta, buku adalah harta yang tak ternilai. Ia bahkan pernah marah kepada pihak Belanda karena koleksi bukunya belum dimuat ke dalam kapal yang akan membawanya ke tempat pengasingan.

Sejarawan Bonnie Triyana mencatat, saking cintanya terhadap buku, Bung Hatta pernah berkata bahwa ia rela dipenjara—asal ditemani buku-bukunya.

Pada 1935, Hatta hendak diasingkan ke Digul, Papua Selatan oleh Belanda.

Ia meminta kepada pemeirntah kolonial untuk membawa serta buku-bukunya yang jumlah totalnya sebanyak 16 peti.

"Bayangkan jika satu peti itu isinya 100. Berarti ada 1600 buku dibawa ke Digul oleh Hatta. Koleksi buku-buku Hatta saat ini masih tersusun rapi dan dapat dilihat di rumahnya Jl. Diponegoro 57, Jakarta," kata Bonnie.

Berkaca dari kisah Bung Hatta, Badan Bahasa Kemendikdasmen bagikan 3 tips agar gemar membaca. Ketiganya yaitu:

1. Buku sebagai Investasi

Sejak usia muda, Bung Hatta sudah mulai mengoleksi buku dan berhasil mengumpulkan lebih dari 8.000 judul.

Bahkan saat diasingkan, ia tetap membawa serta koleksi bukunya, menunjukkan betapa pentingnya buku dalam hidupnya.

Bagi Bung Hatta, buku adalah investasi jangka panjang. Membaca memperluas wawasan, meningkatkan kepercayaan diri, dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dengan orang lain.

Karena itu, jangan ragu untuk menyisihkan sebagian dari penghasilanmu untuk membeli buku.

Mulailah dengan buku-buku yang sesuai dengan minatmu, dan biarkan membaca menjadi kebiasaan yang memperkaya hidup.

2. Disiplin dalam Membaca

Bung Hatta menerapkan jadwal membaca yang teratur. Ia membaca buku pelajaran di malam hari, sementara buku fiksi dan bacaan umum untuk menambah wawasan ia nikmati setiap sore setelah pukul 16.00.

Menurut Hatta, membaca bukan sekadar kegiatan mengisi waktu, tapi juga momen untuk merenung dan memahami makna yang terkandung dalam buku.

Kamu bisa mulai dengan membaca buku yang menarik dan sesuai dengan minatmu.

Tidak perlu langsung selesai dalam sekali duduk, cukup luangkan waktu secara konsisten setiap hari.

Dengan kedisiplinan, membaca akan berkembang menjadi kebiasaan yang memperkaya hidupmu.

3. Jadikan Membaca sebagai Gaya Hidup

Bung Hatta pernah menyampaikan bahwa buku merupakan sumber energi dan kebebasan bagi siapa pun yang haus akan ilmu.

Kecintaan Bung Hatta terhadap buku juga membentuk semangat nasionalismenya, yang terinspirasi dari pemikiran tokoh-tokoh dunia yang ia baca.

Kamu pun bisa menjadikan membaca sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.

Mulailah dengan mengganti 10 menit waktu scrolling media sosial untuk membaca buku yang kamu sukai.

Ajak juga teman untuk berdiskusi tentang buku yang telah dibaca. Dengan begitu, kamu bisa melihat berbagai sudut pandang dan memperluas pemahaman terhadap isi buku tersebut. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#budaya literasi #jendela dunia #abdul malik fadjar #bung hatta #hari buku nasional