Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Varian LF.7 dan NB.1.8 Dominasi Kasus Baru COVID-19 di Singapura, Sudah Masuk Indonesia? Berikut Gejalanya

Belinda Eka Salsabilla • Senin, 19 Mei 2025 | 22:53 WIB
Ilustrasi virus Covid 19
Ilustrasi virus Covid 19

RADARTUBAN - Singapura dilaporkan tengah mengalami lonjakan kasus COVID 19 yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Singapura, jumlah kasus yang terkonfirmasi meningkat menjadi 14.200 dalam periode 27 April-3 Mei 2025, dari 11.100 kasus pada pekan sebelumnya.

Peningkatan ini diduga kuat disebabkan oleh munculnya dua subvarian atau turunan dari JN.1, yakni LF.7 dan NB.1.8, yang kini mencakup lebih dari dua pertiga dari keseluruhan kasus yang terdeteksi.

Meskipun demikian, Kementerian Kesehatan Singapura tegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada indikasi yang menunjukkan bahwa kedua subvarian tersebut memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi atau memicu gejala yang lebih parah dibandingkan varian sebelumnya.

Kementerian juga menyebutkan bahwa munculnya gelombang baru infeksi COVID-19 secara berkala merupakan sesuatu yang wajar terjadi.

Secara umum dalam hal gejala, infeksi COVID-19 yang disebabkan oleh subvarian LF.7 dan NB.1.8 ditandai oleh beberapa gejala yang bisa muncul.

Diantaranya flu, batuk-batuk, sakit tenggorokan, mual, muntah, brain fog atau kabut otak, serta konjungtivitis atau mata merah.

Menanggapi lonjakan kasus ini, Direktur Medis Life Family Clinic, Dr. Lim Kim Show, melaporkan bahwa sebagian besar pasien yang ada di Singapura mengalami gejala ringan.

Salah satu alasan peningkatan kasus ini adalah turunnya tingkat kekebalan tubuh masyarakat akibat rendahnya angka partisipasi dalam program vaksinasi booster.

"Bagi sebagian besar pasien (gejalanya) masih seperti flu biasa dan sebagian besar pasien pulih cukup cepat," ujar Dr. Lim seperti dikutip dari CNA pada Senin, (19/05).

Dr. Lim lebih lanjut mengungkapkan bahwa banyak pasien di kliniknya belum divaksinasi dalam satu hingga dua tahun terakhir.

"Dengan penurunan kekebalan, itu mungkin akan menyebabkan kerentanan yang lebih tinggi pada strain baru. Terutama mereka yang lebih berisiko tinggi," sambungnya.

Kenaikan jumlah kasus COVID 19 ini juga berimbas pada meningkatnya angka pasien yang dirawat di rumah sakit.

Dalam beberapa minggu terakhir, rata-rata rawat inap harian meningkat dari 102 menjadi 133 pasien per hari.

Namun, jumlah pasien yang memerlukan perawatan intensif di unit ICU mengalami penurunan menjadi dua kasus per hari.

Sebagai langkah mitigasi penyebaran, Kementerian Kesehatan Singapura mengeluarkan rekomendasi khusus bagi kelompok risiko tinggi, seperti lansia dan individu dengan kondisi tubuh yang rentan untuk segera mendapatkan vaksin booster terbaru.

Selain itu, masyarakat diimbau untuk tetap menjalankan protokol kesehatan dengan disiplin, seperti mengenakan masker di kerumunan, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta tidak keluar rumah jika sedang sakit. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#covid 19 #varian #kementerian kesehatan #JN 1 #gejala #lonjakan #flu #singapura