Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Produksi Unggas Jatim Alami Over Supplay, Peternak Harus Waspadai Harga Anjlok

Bihan Mokodompit • Selasa, 20 Mei 2025 | 16:23 WIB
Ilustrasi ternak unggas.
Ilustrasi ternak unggas.

RADARTUBAN - Produksi unggas Jatim berlebih menjadi sorotan utama dalam dinamika peternakan di Provinsi Jawa Timur.

Kendati membanggakan karena mampu mencukupi kebutuhan dalam daerah bahkan hingga surplus, kondisi ini ternyata berpotensi menimbulkan tantangan baru.

Salah satunya adalah risiko harga anjlok jika distribusi produk unggas tidak dikelola dengan optimal.

Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Indyah Aryani, menyampaikan bahwa Jawa Timur saat ini mengalami over supply unggas yang cukup signifikan.

"Produksi kita luar biasa. Bahkan sudah berlebih. Ini bukan karena kebetulan, tapi karena kita punya infrastruktur perunggasan yang kuat dan lengkap," ujarnya saat ditemui awak media.

 

Indyah memaparkan bahwa keunggulan Jawa Timur dibangun secara menyeluruh dari hulu ke hilir.

Mulai dari 21 perusahaan pembibitan dengan total 89 unit breeding farm, 67 produsen pakan (27 industri dan 40 UMKM), hingga ketersediaan laboratorium kesehatan hewan dan laboratorium pakan.

Bahkan, tercatat ada 1.043 toko obat hewan tersebar di seluruh provinsi.

Namun, over supply unggas yang terjadi dapat menjadi pisau bermata dua jika tidak ditopang oleh sistem distribusi yang kuat dan merata.

Ketersediaan bibit, pakan, dan obat memang sudah terpenuhi secara lokal, tetapi jika hasil produksinya tak terserap pasar, peternaklah yang akan terkena dampaknya paling dulu: harga jual jatuh dan potensi kerugian meningkat.

 

Menurut Indyah, langkah antisipatif sedang disusun agar surplus ini tidak menjadi masalah besar.

"Kita sekarang sedang menyusun strategi. Supaya produk-produk unggas ini terserap lebih luas. Kita tidak mau over supply ini jadi masalah harga anjlok. Makanya distribusi dan pemasaran harus dikuatkan," jelasnya.

Distribusi unggas yang tidak merata bisa menyebabkan penumpukan stok di beberapa titik, sementara daerah lain masih kekurangan.

Situasi ini menciptakan distorsi pasar yang berujung pada kerugian peternak lokal.

Oleh karena itu, perlu adanya kerja sama lintas sektor, mulai dari pemerintah, swasta, hingga pelaku distribusi dan logistik.

 

Meski demikian, peluang ekspansi tetap terbuka lebar. Dengan infrastruktur perunggasan yang kuat, Jawa Timur bahkan digadang-gadang mampu menjadi pusat perunggasan nasional, bahkan Asia Tenggara.

"Modal kita sudah ada, tinggal bagaimana memaksimalkan dan memperluas jangkauan," imbuh Indyah.

Produksi unggas Jatim berlebih bukanlah masalah selama ada kejelasan pasar dan manajemen distribusi yang matang.

Pemerintah diharapkan lebih cepat bergerak agar surplus ini tidak menjadi beban, melainkan berkah bagi peternak dan perekonomian daerah. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#kerugian #produksi unggas #Over supplay #Jawa Timur #pasar