RADARTUBAN- Viral lagi. Kali ini bukan soal joget TikTok atau artis settingan, tapi soal sound horeg yang dibawa ke laut.
Iya, ke laut. Bukan ke lapangan bola, bukan ke hajatan tetangga. Laut. Fenomena ini jadi perdebatan seru.
Ada yang asyik menikmati dentuman beat keras ala DJ lokal dengan background senja dan laut biru.
Tapi, nggak sedikit juga yang ngeluh. Volume sound-nya sampai bikin rumah getar, telinga ngilu, dan yang paling parah: ekosistem laut terancam.
Netizen bahkan bercanda: “Makin yakin kalo yang sering disebut Atlantis negeri yang hilang itu adalah Indonesia.”
Tapi candaan itu ada benarnya. Karena kalau dipikir serius, penggunaan sound horeg di laut itu bukan sekadar perkara estetika atau gaya-gayaan.
Ini soal keberlangsungan hidup makhluk laut, terutama mamalia seperti paus dan lumba-lumba. Mereka ini bukan cuma hidup dari air dan plankton, tapi juga dari suara.
Menurut Mongabay, banyak mamalia laut bergantung pada suara untuk komunikasi, mengenali lingkungan, bahkan menghindari predator.
Bayangkan, kalau kamu lagi nyari jalan di malam hari pakai telinga karena mata ditutup, terus tiba-tiba ada suara bass jedag-jedug menyambar dari segala arah.
Panik? Bingung? Stress? Begitu juga mereka.
Masalahnya, mamalia laut kayak paus jenis beaked atau sperm whale itu punya sistem pendengaran yang sensitif banget.
Kebisingan berlebihan dari sonar, suara mesin kapal, apalagi sound horeg dadakan di tengah laut bisa bikin mereka terganggu—bahkan luka secara internal.
Efeknya bukan cuma migrasi gagal, tapi juga kehilangan arah, tabrakan, sampai terdampar.
Contohnya nyata. Maret 2000, sebanyak 17 mamalia laut ditemukan terdampar di Bahama.
Bukan karena laut keruh atau makanan habis, tapi karena latihan militer AS yang pakai sonar super keras.
Jadi, jangan kira ini cuma soal “musik keras bikin sakit telinga manusia”.
Ini juga tentang paus yang kehilangan rumahnya, lumba-lumba yang gagal memanggil temannya, sampai ikan-ikan kecil yang nggak bisa lagi mendeteksi predator.
Dan jangan lupa, laut bukan panggung. Bukan klub malam. Bukan juga tempat battle DJ dadakan.
Apalagi kalau yang dijadikan panggung adalah ekosistem hidup yang rapuh dan saling bergantung.
Mau nge-horeg? Silakan. Tapi di tempat yang tepat. Jangan bawa-bawa laut, jangan seret biota laut jadi penonton tak bersuara yang harus menderita karena ambisi manusia bersuara keras.
Laut itu punya iramanya sendiri—lebih dalam dari bass, lebih ritmis dari beat EDM, dan lebih sunyi dari panggung konser manapun.
Jangan sampai kesunyian itu rusak cuma karena kita nggak bisa bedain mana tempat joget, mana tempat hidup. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni