Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Sejarah 21 Mei 1998: Titik Balik Reformasi Indonesia, Soeharto Mundur dan Era Baru Dimulai

Alifah Nurlias Tanti • Rabu, 21 Mei 2025 | 18:44 WIB
Mantan presiden kedua Indonesia, Soeharto
Mantan presiden kedua Indonesia, Soeharto

RADARTUBAN- Tanggal 21 Mei diperingati sebagai Hari Reformasi Nasional, sebuah momen penting dalam sejarah Indonesia yang menandai berakhirnya era Orde Baru dan dimulainya babak baru dalam perjalanan bangsa.

Tepat 27 tahun yang lalu, Presiden kedua Indonesia, Soeharto, mengundurkan diri setelah memimpin selama 32 tahun, membuka jalan bagi Era Reformasi yang membawa perubahan besar di berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Reformasi yang terjadi pada tahun 1998 bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Benih-benih perubahan sudah mulai tumbuh sejak beberapa tahun sebelumnya.

Namun perjuangan nyata dan puncaknya terjadi antara tanggal 10 hingga 21 Mei 1998.

Salah satu faktor utama yang memicu gelombang reformasi ini adalah maraknya praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang merajalela di pemerintahan saat itu, yang membuat rakyat semakin tidak puas dan menuntut perubahan.

Pada tanggal 10 Mei 1998, Presiden Soeharto membentuk Kabinet Pembangunan VIII.

Namun, komposisi kabinet ini dianggap penuh dengan praktik KKN, yang semakin memicu ketidakpuasan publik dan menambah ketegangan politik di tengah masyarakat.

Pada 11 dan 12 Mei 1998, Amien Rais, seorang tokoh reformasi, mengajak pembentukan Majelis Kepemimpinan Rakyat sebagai wadah untuk menampung aspirasi masyarakat dan mendorong reformasi secara damai.

Namun, keadaan berubah drastis pada 12 Mei ketika demonstrasi damai mahasiswa Universitas Trisakti dibalas dengan tembakan dari aparat keamanan.

Tragedi ini menewaskan empat mahasiswa, yaitu Elang Mulya Lesmana, Hafidhin Royan, Heri Hartanto, dan Hendriawan Sie. Peristiwa ini memicu kemarahan yang meluas di seluruh negeri.

Kerusuhan massal dan penjarahan pun terjadi pada 13 dan 14 Mei 1998 di Jakarta dan sekitarnya.

Toko-toko terbakar, pusat perbelanjaan dijarah, dan ribuan orang menjadi korban kebakaran.

Pada saat krisis ini, Presiden Soeharto sedang berada di Kairo untuk menghadiri KTT G-15, yang menimbulkan kesan bahwa rakyat merasa ditinggalkan oleh pemimpinnya.

Puncak dari rangkaian peristiwa ini terjadi pada pagi hari tanggal 21 Mei 1998, ketika Presiden Soeharto secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya.

Ia menyerahkan kekuasaan kepada Wakil Presiden BJ Habibie sesuai dengan Pasal 8 UUD 1945.

Momen ini menandai berakhirnya Orde Baru setelah 32 tahun pemerintahan dan sekaligus membuka babak baru yang dikenal sebagai Era Reformasi.

Rangkaian peristiwa Reformasi 1998 menjadi bukti nyata bahwa suara rakyat, terutama generasi muda dan mahasiswa, memiliki kekuatan besar untuk membawa perubahan yang substansial bagi bangsa.

Reformasi ini bukanlah perubahan instan, melainkan hasil dari perjuangan panjang yang mencapai puncaknya di pertengahan Mei 1998.

Semangat reformasi yang lahir dari masa-masa sulit ini diharapkan terus hidup dan menjadi landasan bagi perbaikan bangsa ke depan, demi terciptanya Indonesia yang lebih adil, demokratis, dan sejahtera. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#soeharto #orde baru #sejarah #Hari Reformasi Nasional