RADARTUBAN - Gaji dosen yang rendah menjadi masalah serius di Indonesia, memaksa banyak dosen bekerja keras mencari penghasilan tambahan demi memenuhi kebutuhan hidup.
Gaji pokok dosen muda dengan gelar S2 rata-rata hanya sekitar Rp 3 juta per bulan, jauh di bawah standar layak.
Sehingga mereka rela menambah jam mengajar, menjadi panitia acara, bahkan mengambil pekerjaan sampingan.
Ketua Aliansi dosen menjelaskan bahwa banyak dosen terlihat seolah hidup mapan karena pekerjaan tambahan di luar jam mengajar, padahal itu demi menutupi gaji pokok yang minim.
Beban administratif yang tinggi di perguruan tinggi negeri kecil juga membuat dosen harus bekerja lebih dari jam normal, sementara penghasilan utama tidak cukup.
Perbandingan dengan negara tetangga menunjukkan gaji dosen Indonesia jauh tertinggal.
Rata-rata gaji pokok dosen di Indonesia hanya 1,3 kali upah minimum provinsi, sedangkan di Kamboja bisa mencapai 6,6 kali, Thailand 4,1 kali, dan Vietnam 3,42 kali upah minimum.
Hal ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk peningkatan gaji dosen agar layak dan kompetitif.
Beberapa pihak menuntut gaji dosen minimal Rp 15 juta per bulan, setara dengan gaji hakim muda, mengingat kualifikasi pendidikan dosen minimal S2.
Saat ini, walaupun ada tunjangan, gaji dosen muda maksimal sekitar Rp 7 juta, masih jauh dari harapan.
Kondisi ini membuat banyak dosen harus banting tulang mencari penghasilan tambahan, seperti mengikuti kegiatan di luar kampus yang memberikan honor, demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Rendahnya gaji dosen di Indonesia memaksa mereka bekerja ekstra keras untuk mendapatkan penghasilan tambahan, yang mencerminkan perlunya perhatian serius dari pemerintah dan institusi pendidikan untuk meningkatkan kesejahteraan dosen demi kualitas pendidikan yang lebih baik. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni