Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Pekan Ini Pasar Hanya Buka 3 Hari: IHSG Siap Tancap Gas atau Rem Mendadak?

Mohamad Anas Ali Wafa • Senin, 26 Mei 2025 | 19:12 WIB
Ilustrasi pemantau Saham
Ilustrasi pemantau Saham

RADARTUBAN - Pasar keuangan Indonesia akan menghadapi pekan perdagangan yang singkat, hanya berlangsung tiga hari kerja, karena ada libur panjang untuk memperingati Kenaikan Yesus Kristus.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai arah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG): apakah akan terus melaju setelah kenaikan signifikan lebih dari 10% dalam sebulan terakhir, atau justru akan mengalami koreksi.

Saat ini, IHSG berada di level resistansi teknikal, tepatnya menguji MA200 daily di sekitar 7300.

Jika tidak mampu menembus level ini, ada potensi pembalikan arah, setidaknya menuju support terdekat di kisaran 6900-7000.

Pekan lalu, pasar Indonesia diwarnai berbagai sentimen positif. Salah satunya adalah kembalinya aliran dana asing yang mencatat net buy sebesar Rp5 triliun di pasar reguler selama sebulan terakhir.

Selain itu, rupiah menunjukkan penguatan yang cepat, kembali ke level Rp16.200 per dolar AS.

Kabar positif juga datang dari Danantara yang menunjukkan keseriusan dalam menyehatkan ekosistem BUMN.

Yang tak kalah penting, Bank Indonesia (BI) telah memangkas suku bunga acuannya, sebuah langkah yang juga diikuti oleh bank sentral China dan Australia di kawasan regional.

Sentimen pemangkasan suku bunga ini diperkirakan masih akan berlanjut dampaknya di pekan depan.

Tidak hanya dari sisi suku bunga, sentimen positif juga datang dari laporan terbaru JPMorgan per 19 Mei 2025, yang meningkatkan peringkat pasar saham emerging market menjadi "Overweight" dari sebelumnya "Neutral".

Ini menandakan pandangan yang lebih optimistis terhadap pasar berkembang, termasuk Indonesia.

Namun, di sisi lain, pelaku pasar juga harus mewaspadai potensi volatilitas yang lebih tinggi akibat beberapa faktor eksternal.

Di akhir pekan lalu, Donald Trump kembali membuat ulah dengan ancaman tarif hingga 50% terhadap Uni Eropa menyusul kebuntuan negosiasi, serta ancaman tarif hingga 25% untuk produk Apple dan Samsung.

Ancaman ini berpotensi mengganggu rantai pasokan global dan sentimen investasi.

Selain itu, pasar obligasi di Amerika Serikat juga mengalami aksi jual besar-besaran, menyebabkan yield US Treasury tenor 10 tahun melonjak di atas 4,5% pekan lalu.

Bahkan, pada 22 Mei 2025, yield tenor 30 tahun sempat melonjak ke level 5,15% secara intraday, mencapai posisi tertinggi sejak Oktober 2023.

Fenomena ini diperparah dengan masalah krisis obligasi yang tengah melanda Jepang, yang merupakan pemegang surat utang AS terbesar.

Jepang menghadapi inflasi yang memanas dan tren kenaikan suku bunga, arah kebijakan moneter yang berbeda dengan negara lain yang mengharapkan penurunan suku bunga.

Kondisi ini memicu risiko carry trade kembali muncul dan kemungkinan Jepang akan menjual sebagian UST untuk memperbaiki kondisi dalam negerinya.

China, yang sebelumnya merupakan pemegang UST terbesar kedua, juga terpantau melakukan penjualan besar-besaran dan kini bergeser ke urutan ketiga.

Perkembangan ini patut diantisipasi sebagai risiko yang dapat mempengaruhi pasar di pekan depan.

Dari sisi data ekonomi, ada beberapa rilis penting yang dinantikan. Secara eksternal, risalah pertemuan The Fed akan diumumkan pada 29 Mei 2025 waktu Indonesia.

Namun, karena pasar Indonesia sudah libur pada tanggal tersebut, respon pasar kemungkinan baru akan terlihat setelah libur panjang.

Jika risalah The Fed cenderung hawkish, pelaku pasar akan cenderung wait and see, yang bisa meningkatkan volatilitas.

Sementara itu, dari internal, setidaknya akan ada kabar positif terkait pengumuman sejumlah insentif ekonomi untuk kuartal II tahun 2025.

Insentif ini bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat dan menggerakkan perekonomian nasional, khususnya selama periode libur sekolah di bulan Juni-Juli 2025.

Pemerintah telah menyiapkan 6 Paket Stimulus berbasis konsumsi domestik, dengan fokus pada peningkatan aktivitas masyarakat di sektor transportasi, energi, hingga bantuan sosial.

Secara keseluruhan, meskipun sentimen positif di dalam negeri masih dominan, pelaku pasar juga perlu mempertimbangkan risiko eksternal dan potensi profit taking.

Koreksi normal bisa terjadi mengingat posisi IHSG di level resistansi dan adanya libur panjang. Karena kebutuhan dana cair (T+2), perdagangan pada hari ini, Senin, (26/5), akan menjadi penentu penting penutupan IHSG di pekan terakhir bulan Mei. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#indeks harga saham gabungan #Kenaikan Yesus Kristus #ihsg #libur panjang #pasar keuangan indonesia