RADARTUBAN - Untuk mengantisipasi lonjakan penyakit mulut dan kuku (PMK) saat Idul Adha 2025, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyiapkan ribuan petugas kesehatan hewan di seluruh wilayah provinsi.
Penyakit mulut dan kuku kerap menjadi ancaman menjelang hari raya kurban, terutama di pasar hewan dan rumah potong yang ramai dikunjungi masyarakat.
Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa sebanyak 2.598 tenaga kesehatan hewan telah disiapkan oleh Dinas Peternakan Jawa Timur.
Mereka terdiri dari 950 orang dokter hewan medik veteriner, 1.500 paramedik veteriner, 94 pengawas bibit ternak, serta 58 pengawas mutu pakan.
“Jelang Idul Kurban, kami telah mengerahkan tim pemeriksa kesehatan hewan dari dinas terkait untuk memantau, memeriksa, dan memastikan semua hewan kurban bebas dari penyakit, terutama PMK. Kami pastikan hewan ternak kami sehat dan dagingnya layak dikonsumsi,” ujar Khofifah kepada awak media.
Petugas kesehatan hewan akan melakukan pemeriksaan sebelum pemotongan (ante mortem) dan sesudah pemotongan (post mortem) guna memastikan ternak yang disembelih benar-benar sehat dan layak konsumsi.
Pemeriksaan tersebut dilakukan secara berkala di berbagai titik strategis seperti pasar hewan, rumah potong hewan (RPH), dan lokasi peternakan di 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur.
“Secara berkala pemeriksaan dan pengawasan kesehatan hewan dilakukan secara ketat di berbagai titik penjualan, rumah potong hewan, dan peternakan,” tambahnya.
Kekhawatiran masyarakat terhadap penyakit mulut dan kuku serta Lumpy Skin Disease (LSD) menjadi perhatian serius pemerintah.
Namun, Khofifah memastikan kedua penyakit tersebut berhasil ditekan secara signifikan.
“Penyakit PMK dan LSD terus menurun secara signifikan dan terkendali hingga Mei 2025,” lanjut Khofifah.
Penurunan kasus ini didukung program vaksinasi dan distribusi obat, vitamin, serta disinfektan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan Kementerian Pertanian melalui Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Dinas Peternakan Jawa Timur juga menyiapkan 3.254 juru sembelih halal (Juleha) yang akan bertugas di RPH maupun tempat pemotongan kurban di seluruh kabupaten dan kota.
Juleha tersebut akan mendukung proses penyembelihan hewan agar sesuai syariat, sekaligus memastikan hewan yang dipotong dalam kondisi sehat dan aman dari penyakit mulut dan kuku maupun LSD.
Selain pemeriksaan langsung, pengendalian penyakit juga didukung penerapan SOP lalu lintas ternak antarwilayah.
Gubernur Khofifah menyatakan bahwa hal tersebut berperan besar dalam mengendalikan penyebaran penyakit menular pada hewan kurban.
“Allhamdulillah PMK dan LSD pada hewan kurban baik kambing, domba, dan sapi bisa dilaksanakan dengan menerapkan SOP lalu lintas ternak antar wilayah,” pungkasnya.
Upaya Pemprov Jatim dalam menangani penyakit mulut dan kuku menunjukkan komitmen untuk melindungi masyarakat dan menjamin kelayakan konsumsi daging kurban.
Dengan sinergi antara tenaga medis, pengawasan ketat, serta edukasi kepada masyarakat, Jawa Timur diharapkan dapat menyambut Idul Adha 2025 dengan aman dan sehat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni